Petani, Air, dan Ritual yang Terlupakan
Para uskup menegaskan: eksplorasi geotermal bukan hanya soal teknis dan profit, tapi soal hidup- mati masyarakat adat dan ekosistem rapuh.
“Lahan kami sempit, air makin langka, dan kalian datang dengan bor raksasa?” Kira-kira begitu inti pesannya.
Baca Juga: PDIP Undang Presiden Prabowo ke Kongres: Panggung Rekonsiliasi atau Drama Politik Musiman?
Pertanian bukan sekadar urusan pangan, tapi fondasi dari budaya, ritual, bahkan spiritualitas masyarakat Flores dan Lembata.
Dan jangan lupakan: setiap kali air kering di ladang, bukan hanya padi yang mati, tapi juga harapan generasi.
“Green Energy” yang Tak Ramah Lingkungan?
Baca Juga: Heboh! Buruh Pelabuhan Lewoleba Paksa Penumpang Serahkan Barang Bawaan
Lucunya, proyek geothermal ini kerap dibungkus dalam selimut manis: energi hijau.
Tapi bukankah hijau itu lambang kesuburan, keseimbangan, dan keberlanjutan? Tiga hal yang justru terancam oleh alat-alat berat dan izin- izin tambang.
PMKRI Cabang Ende bahkan ikut bersuara lantang: jangan jual nama pembangunan kalau itu hanya melahirkan konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan pemiskinan struktural.
Baca Juga: Tim Misi Kemanusiaan Indonesia Tiba di Myanmar: Siap Tanggulangi Bencana Gempa M7.7
Tawaran: Matahari Lebih Bersahabat
Keuskupan Agung Ende tak hanya menolak, mereka juga menawarkan jalan lain: energi surya.