REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Tradisi nelayan Lamalera, Kabupaten Lembata, untuk hadir dalam perayaan Semana Santa di Larantuka, Flores Timur (Flotim), kembali terulang tahun ini.
Dengan menggunakan peledang, perahu tradisional khas Lamaler, para nelayan mengarungi lautan demi memenuhi janji iman yang telah terpatri sejak 1994.
Salah satu nelayan asal Lamalera B, Stefanus Fotu, kepada Reportase NTT pada Kamis (17/4/2025) menceritakan perjalanan spiritual mereka.
Stefanus mengungkapkan, mereka berangkat dari Lamalera sekitar pukul 07.30 WITA dan tiba di Larantuka pada pukul 14.00 WITA.
“Waktu kami melewati perairan Lamakera, kebetulan terdengar suara adzan berkumandang. Orang-orang di sana sedang sembahyang. Jadi kami tahu, waktu itu pas jam 12 siang,” ujar Stefanus.
Dalam perjalanan, rombongan peledang tak hanya melintas, mereka juga sempat singgah di Botung, Tanjung Gemuk, Pulau Adonara, untuk mencari kayu bakar sebagai persiapan logistik selama di Larantuka.
“Kami cari kayu api untuk keperluan masak, baik makan malam maupun makan siang, selama mengikuti rangkaian Semana Santa,” tambahnya.
Stefanus juga memastikan, selain kayu api, mereka telah membawa perbekalan berupa beras, ikan, dan sayur, seperti yang sudah menjadi kebiasaan nelayan Lamalera setiap kali mengikuti prosesi religius ini.
Tradisi keikutsertaan masyarakat Lamalera dalam Semana Santa di Larantuka bermula dari peristiwa yang terjadi lebih dari tiga dekade lalu.
Baca Juga: Doa yang Terapung di Atas Gelombang, Lamalera Menjaga Janji di Semana Santa Larantuka
Pada tahun 1994, dua peledang milik warga Lamalera sempat hilang saat musim perburuan ikan paus.