REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi buka suara terkait laporan pidana yang dilayangkan seorang wali murid, Adhel Setiawan, terhadap dirinya.
Alih-alih menunjukkan kemarahan, pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi itu memilih untuk merespons dengan kepala dingin.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (7/6), Dedi menyatakan bahwa kritik maupun upaya hukum terhadap dirinya bukan hal yang perlu dibalas dengan emosi.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (7/6), Dedi menyatakan bahwa kritik maupun upaya hukum terhadap dirinya bukan hal yang perlu dibalas dengan emosi.
“Saya sampaikan ya kepada semuanya, berbagai upaya yang diarahkan pada diri saya, baik kritik, saran, bully, nyinyir, atau upaya mempidanakan diri saya, enggak usah ditanggapi dengan emosi,” ujar Dedi.
“Mungkin mereka lagi mau mencari perhatian,” sambungnya.
Sebelumnya, Dedi dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh Adhel Setiawan pada Kamis (5/6).
Adhel menuding kebijakan Dedi yang mengirim siswa bermasalah ke barak militer sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak anak.
Menurut Adhel, kebijakan tersebut melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 76H.
Menurut Adhel, kebijakan tersebut melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 76H.
Ia juga menyebut Dedi menjalankan kekuasaan tanpa dasar hukum.
“Dedi Mulyadi ini kami anggap melaksanakan negara kekuasaan,” kata Adhel.
Selain melapor ke Bareskrim, Adhel juga mengadukan kebijakan tersebut ke Komnas HAM pada 8 Mei 2025.
Menanggapi tudingan itu, Dedi menegaskan bahwa dirinya siap menghadapi berbagai serangan terhadap kepemimpinannya.
Ia juga mengingatkan publik agar tidak gegabah menghakimi pemimpin yang sedang mengambil keputusan.
“Jangan sampai setiap orang yang mengambil tindakan, ramai-ramai ‘digebukin’,” ucapnya.
“Kalau mentalnya kayak saya, enggak ada masalah. Tapi kalau mentalnya lemah, orang di Indonesia ini tidak akan ada yang mau ngurusin orang lain,” tutupnya.
“Jangan sampai setiap orang yang mengambil tindakan, ramai-ramai ‘digebukin’,” ucapnya.
“Kalau mentalnya kayak saya, enggak ada masalah. Tapi kalau mentalnya lemah, orang di Indonesia ini tidak akan ada yang mau ngurusin orang lain,” tutupnya.