Skandal Hijau: Ketika Raja Ampat dan Flores Dikorbankan Demi Tambang dan Energi Bersih

Photo Author
Redaksi, Reportase NTT
- Sabtu, 7 Juni 2025 | 08:10 WIB
Background alam saja Ampat Papua,  foto depan orang Papua. (Original photo taken di Instagram @akupapuaasli)
Background alam saja Ampat Papua, foto depan orang Papua. (Original photo taken di Instagram @akupapuaasli)

 

Catatan Redaksi

REPORTASENTT.COM- Laut jadi lumpur, hutan jadi pelabuhan tambang. Dan negeri diam...

Raja Ampat dalam Ancaman: Surga Papua Dikeruk Demi Nikel

"Kami tidak minta emas, kami cuma ingin laut kembali jernih."

Kalimat itu datang dari Ronisel Mambrasar, nelayan generasi ketiga dari Pulau Gag, Raja Ampat.

Dulu, air lautnya sebening kristal. Kini, sejak tambang nikel masuk, ikan menghilang, air keruh, dan para turis enggan datang.

Baca Juga: Heboh! Prabowo Goyang Gemu Fa Mi Re Bareng Timnas Usai Bantai China

Pulau yang dijuluki surga bawah laut itu kini perlahan berubah jadi kawasan industri logam berat.

Dihimpun dari berbagi sumber menemukan bahwa antara 2020–2024, luas konsesi tambang nikel di Raja Ampat melonjak lebih dari tiga kali lipat.

Sedikitnya 22.420 hektare kawasan hutan dan pesisir, termasuk kawasan konservasi kelas dunia, telah diberikan izin tambang.

Pulau-pulau kecil seperti Gag, Kawe, Manuran, hingga Manyaifun kini tak lagi ramah.

Baca Juga: Jutaan Barang Impor Ilegal dari China Disita, DPR: TikTok Jadi Sarang Produk Ilegal!

 

Ekskavator dan pelabuhan tambang berdiri di bibir pantai. Lumpur tailing menenggelamkan terumbu karang. Sumber penghidupan warga lenyap dalam senyap.

“Kami menanam terumbu karang selama 10 tahun. Sekarang, dalam dua bulan, habis disapu lumpur tambang,” ujar Mama Yustina dari Manyaifun.

Halaman:

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X