Benih Panggilan yang Tumbuh dalam Hati Kecil
Ketika ditanya kapan pertama kali merasakan panggilan menjadi suster, Yasinta menjawab: “Sejak kecil, saya merasa bahagia setiap kali bertemu para suster. Ada sukacita yang tak bisa dijelaskan.”
Perasaan itu tumbuh perlahan, seperti benih yang disiram air harapan dan iman.
“Saya merasa Tuhan memanggil saya lewat mereka,” ungkapnya.
Baca Juga: Lima Nelayan Selamat Usai Perahu Terbalik Diterjang Cuaca Buruk di Selat Alas-Kayangan
Namun bukan hanya sosok religius yang menjadi inspirasinya.
Yasinta menekankan bahwa orang tuanya, dalam kesederhanaan hidup dan keteguhan iman, menjadi teladan utama.
“Mereka membentuk karakter saya sejak kecil. Sayangnya, mereka berdua sudah berpulang sebelum melihat saya mengenakan jubah suster. Tapi saya yakin, mereka melihat dari surga dan menjadi malaikat pelindung saya.”
Baca Juga: Konser Juan Reza di Ende, Ramai Penonton, Sepi Kualitas
Hidup Membiara: Jalan Salib yang Membahagiakan
Yasinta bergabung dengan Kongregasi Suster Katekis Hati Kudus, yang berbasis di Lembata.
Ia jatuh cinta pada karisma kongregasi ini: membimbing anak-anak dalam persiapan sakramen, menemani keluarga menuju pernikahan kudus, dan hadir di tengah umat yang membutuhkan, kapan saja.
Namun, kehidupan membiara bukan jalan tanpa duri.
Baca Juga: Penumpang Teriak Ancaman Bom di Pesawat Rute Jakarta-Medan, Penerbangan Tertunda
“Tantangan terbesar adalah beradaptasi dengan aturan komunitas dan belajar hidup dalam semangat kesatuan meski berbeda latar belakang,” ujar Yasinta.
Pernahkah ia ragu? “Pernah. Tapi cinta Tuhan selalu lebih kuat daripada segala keraguan.”
Hidup dalam Iman dan Pelayanan