REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuai sorotan publik usai mengeluarkan larangan kegiatan study tour bagi siswa di wilayahnya. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/Kesra tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat Menuju Terwujudnya Gapura Panca Waluya.
Dalam surat edaran itu, salah satu poin utamanya adalah pelarangan kegiatan wisata sekolah yang dikemas dalam bentuk study tour karena dinilai membebani keuangan orang tua siswa.
Dalam surat edaran itu, salah satu poin utamanya adalah pelarangan kegiatan wisata sekolah yang dikemas dalam bentuk study tour karena dinilai membebani keuangan orang tua siswa.
Kebijakan ini mendapat respons beragam dari masyarakat, baik yang mendukung maupun menolak.
Pejabat yang akrab disapa KDM ini mengungkapkan latar belakang kebijakan tersebut dalam sebuah video podcast bersama Deddy Corbuzier yang diunggah pada Senin (4/8).
Dalam kesempatan itu, KDM membagikan cerita dari salah satu orang tua siswa yang mengeluhkan mahalnya biaya study tour.
“Banyak orang yang hari ini bertemu saya, pasti ceritanya ‘Kenapa ibu kelihatan sangat susah, kenapa sedih ketemu saya,’” tutur KDM.
“Banyak orang yang hari ini bertemu saya, pasti ceritanya ‘Kenapa ibu kelihatan sangat susah, kenapa sedih ketemu saya,’” tutur KDM.
Ia menirukan curhatan salah satu orang tua yang merasa terbebani oleh biaya study tour anaknya.
“‘Anak saya itu harus study tour, ongkosnya Rp2,5 juta terus nanti bekal Rp1,5 juta, total Rp4 juta,’” imbuhnya.
“Gede lho itu,” lanjutnya.
KDM juga mengungkapkan bahwa banyak orang tua yang terpaksa meminjam uang dari lembaga informal seperti Bank Emok demi membiayai kegiatan tersebut.
“Bank Emok itu adalah bank yang ada di desa, rentenir, terorganisir dengan baik, terkelola dengan baik, tidak (legal) tapi berkeliaran bebas,” jelas KDM.
Menurutnya, praktik pinjaman dari lembaga semacam itu bukan hanya membebani masyarakat, tapi juga merugikan negara karena tidak membayar pajak dan menarik bunga tinggi yang disebutnya sebagai bunga tidur.
“Apa sih study tour-nya? Ternyata piknik biasa, mengunjungi tempat wisata,” sindirnya.
Sebagai alternatif, KDM mendorong agar sekolah-sekolah di Jawa Barat mengganti kegiatan study tour dengan program-program edukatif berbasis kearifan lokal, seperti pengelolaan sampah mandiri, peternakan, perikanan, pertanian, hingga kewirausahaan.
Kebijakan ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Sebagian mendukung karena dianggap melindungi orang tua dari beban ekonomi, sementara sebagian lain menilai kebijakan ini menghilangkan pengalaman belajar di luar kelas yang bermanfaat bagi siswa.
Artikel Terkait
Gubernur Melki Laka Lena: 5.000 PPPK Harus Seirama dengan PNS
Roy Suryo Cs Akan Rilis Buku Dugaan Ijazah Palsu Jokowi pada 17 Agustus 2025
Mensesneg Prasetyo Hadi Bantah Isu Pergantian Mendagri: Jangan Bikin Isu
Kasus Ijazah Jokowi: Polisi Periksa Silfester Matutina, Ini 3 Tuduhan yang Dibahas
Andre Taulany Hadiri Sidang Cerai, Tegas Tolak Libatkan Anak