news

21 Tahun Munir Berpulang: Dari Malam Seribu Lilin di Kupang hingga Museum Munir, Misteri yang Membeku

Senin, 8 September 2025 | 21:25 WIB
Munir Said Thalib. (Foto desain by One)


 
REPORTASENTT.COM, KUPANG- Tepat pada, Minggu (7/9), genap 21 tahun aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib atau akrab disapa Cak Munir meninggal dunia.
 
 
Sosok yang dikenal gigih membela masyarakat kecil itu dikenang kembali oleh sejumlah aktivis, termasuk di Kupang, Nusa Tenggara Timur.


Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTT, Darius Beda Daton, mengaku beruntung pernah bersua langsung dengan Munir.
 
 
 Baca Juga: Patroli Siber TNI Seret Nama Ferry Irwandi, Kasus Dibawa ke Polda Metro
 
 
Ia mengenang pertemuan pada 2001 saat aktif di LSM Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) Kupang, ketika Munir menjabat Direktur Imparsial.

“Cak Munir kala itu datang ke kantor PIAR. Ia memberikan ceramah tentang HAM dan demokrasi.
 
 
Bicaranya sistematis, penuh data, tanpa teks, tapi kata-katanya mengalir,” tulis Darius dalam unggahan di media sosialnya.
 
 
 
Baca Juga: Sri Mulyani Dicopot, Rupiah Sempat Menguat: Prabowo Tunjuk Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Menteri Keuangan

Salah satu pesan Munir yang selalu ia ingat adalah:
 

“Jangan pernah merasa takut. Sebab perasaan yang paling ditakuti adalah rasa takut itu sendiri.”


Menurut Darius, kalimat itu menjadi pegangan hidupnya, bahkan ketika harus menghadapi fobia naik pesawat.
 
 
 
 Baca Juga: Seniman Konga Flores Timur Kolaborasi di Festival Pasca Penciptaan ISI Surakarta


Pertemuan Terakhir

Darius kembali bertemu Munir pada 2002 di Jakarta saat mengikuti pendidikan Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) di LBH Jakarta.
 
 
 
 
Munir menjadi salah satu pengajar bersama sejumlah tokoh hukum nasional.
 
Darius Beda Daton; Ketua Ombudsman RI Perwakilan NTT. (Foto/ ist)


Tak lama berselang, Darius sempat menjenguk Munir yang dirawat di RS Carolus.
 
 
 
 Baca Juga: Minum Kopi Pagi Bikin Mood Lebih Bahagia, Efeknya Tahan 2,5 Jam
 
 
 
“Meski tubuhnya dipasangi banyak slang obat, Cak Munir tetap semangat. Ia masih sempat menanyakan kabar kawan-kawan di Kupang,” kenangnya.
 
 


Itu menjadi perjumpaan terakhir. Pada 7 September 2004, Munir meninggal dunia dalam penerbangan menuju Belanda.
 
 
 
 
Hasil penyelidikan menunjukkan adanya racun arsenik dalam minumannya saat transit di Singapura.
 
 
 Baca Juga: Mentan Andi Amran Sulaiman Ultimatum Mafia Pangan: Negara Tidak Boleh Kalah



Kabar kematian Munir mengguncang publik.
 
 
Di Kupang, Darius bersama rekan-rekannya menggelar aksi Malam Seribu Lilin.
 
 
Poster wajah Munir terpajang di kantor LSM sebagai simbol perjuangan.
 
 
 Baca Juga: Kronologi Gelap Oebobo: OT Resmi Jadi Tersangka, Kasus Berlanjut ke Jaksa


Munir dikenal gigih membela hak-hak buruh.
 
 
Darius bahkan menyebut ada kisah unik, yakni sepeda motor merah milik Munir yang sempat dicuri lalu dikembalikan setelah pencuri tahu motor itu milik aktivis pembela rakyat.
 


Kini, di Batu, Malang, berdiri Museum Munir sebagai pengingat jasanya.
 
 
 
 Baca Juga: Viral Menhut Main Domino dengan Tersangka Pembalak Liar, Begini Klarifikasi Raja Juli
 
 
 
Dalam proses hukum, hanya mantan pilot Garuda Indonesia Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis bersalah.
 
 

“Cak Munir orang baik. Pembela sejati hingga akhir hayatnya. Semoga kami mampu melanjutkan perjuanganmu,” ujar Darius menutup kenangannya.


Tags

Terkini