REPORTASENTT.COM, KUPANG- Tepat pada, Minggu (7/9), genap 21 tahun aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib atau akrab disapa Cak Munir meninggal dunia.
Sosok yang dikenal gigih membela masyarakat kecil itu dikenang kembali oleh sejumlah aktivis, termasuk di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTT, Darius Beda Daton, mengaku beruntung pernah bersua langsung dengan Munir.
Ia mengenang pertemuan pada 2001 saat aktif di LSM Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) Kupang, ketika Munir menjabat Direktur Imparsial.
“Cak Munir kala itu datang ke kantor PIAR. Ia memberikan ceramah tentang HAM dan demokrasi.
“Cak Munir kala itu datang ke kantor PIAR. Ia memberikan ceramah tentang HAM dan demokrasi.
Bicaranya sistematis, penuh data, tanpa teks, tapi kata-katanya mengalir,” tulis Darius dalam unggahan di media sosialnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Dicopot, Rupiah Sempat Menguat: Prabowo Tunjuk Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Menteri Keuangan
Salah satu pesan Munir yang selalu ia ingat adalah:
Salah satu pesan Munir yang selalu ia ingat adalah:
“Jangan pernah merasa takut. Sebab perasaan yang paling ditakuti adalah rasa takut itu sendiri.”
Menurut Darius, kalimat itu menjadi pegangan hidupnya, bahkan ketika harus menghadapi fobia naik pesawat.
Pertemuan Terakhir
Darius kembali bertemu Munir pada 2002 di Jakarta saat mengikuti pendidikan Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) di LBH Jakarta.
Munir menjadi salah satu pengajar bersama sejumlah tokoh hukum nasional.
Darius Beda Daton; Ketua Ombudsman RI Perwakilan NTT. (Foto/ ist)
Tak lama berselang, Darius sempat menjenguk Munir yang dirawat di RS Carolus.
“Meski tubuhnya dipasangi banyak slang obat, Cak Munir tetap semangat. Ia masih sempat menanyakan kabar kawan-kawan di Kupang,” kenangnya.
Itu menjadi perjumpaan terakhir. Pada 7 September 2004, Munir meninggal dunia dalam penerbangan menuju Belanda.
Hasil penyelidikan menunjukkan adanya racun arsenik dalam minumannya saat transit di Singapura.
Kabar kematian Munir mengguncang publik.
Di Kupang, Darius bersama rekan-rekannya menggelar aksi Malam Seribu Lilin.
Poster wajah Munir terpajang di kantor LSM sebagai simbol perjuangan.
Munir dikenal gigih membela hak-hak buruh.
Darius bahkan menyebut ada kisah unik, yakni sepeda motor merah milik Munir yang sempat dicuri lalu dikembalikan setelah pencuri tahu motor itu milik aktivis pembela rakyat.
Kini, di Batu, Malang, berdiri Museum Munir sebagai pengingat jasanya.
Dalam proses hukum, hanya mantan pilot Garuda Indonesia Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis bersalah.
“Cak Munir orang baik. Pembela sejati hingga akhir hayatnya. Semoga kami mampu melanjutkan perjuanganmu,” ujar Darius menutup kenangannya.