news

Di Ujung Timur Indonesia, Dokter Vienna dan Dokter Yeziel Menjahit Rindu Bersama Fajar Band lewat Lagu LDR

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:03 WIB
Dokter Vienna dan dr. Yeziel bersama personel Fajar Band berpose usai pengambilan clip lagu LDR. (Foto/ist)



REPORTASENTT.COM, ADONARA- Angin Laut Flores berembus pelan menyentuh pesisir Larantuka dan Adonara, dua lanskap teduh di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Di ufuk timur Nusantara, tujuh dokter muda menjalani satu tahun internsip, merawat tubuh-tubuh lelah pada siang hari, lalu menata resonansi rindu ketika malam turun perlahan.

Sejak Februari 2025, dr. Vienna Christantia bersama enam sejawatnya bertugas di dua titik pelayanan: sebagian di RSUD dr. Hendrikus Fernandez, sebagian lain di Puskesmas Waiwerang. Mereka adalah dr. Vienna Christantia, dr. Yeziel Sayogo, dr. Januario Sebastiano Sega, dr. Uswatun Hasanah, dr. Rahmad Chairuddin Anwar, dr. Fujianto Halim, dan dr. Ritma Indiasmarani Tambunan.

“Kami ingin belajar langsung di wilayah dengan akses terbatas. Saat kesempatan datang ke Flores Timur, kami melihatnya sebagai ruang menempa diri sekaligus mengabdi,” kata Vienna saat dihubungi terpisah melalui pesan WhatsApp, Jumat (27/2/2026)

 

Baca Juga: Polda NTT Selidiki Proyek Rabat Beton Rp11 Miliar di Tanjung Bunga, Audit Terkendala Anggaran



Adaptasi di Tengah Keterbatasan


Di ruang periksa, realitas tak selalu setenang garis cakrawala. Sejumlah pasien membutuhkan pemeriksaan laboratorium komprehensif maupun pencitraan radiologis lanjutan.

Namun jarak rujukan dan keterbatasan transportasi kerap menghadirkan jeda klinis yang menguji kesabaran.

“Situasi seperti ini menuntut ketajaman anamnesis dan presisi pemeriksaan fisik. Keputusan terapi diambil dengan pertimbangan klinis yang sangat hati-hati,” tutur Vienna.

 

Baca Juga: Dari Skorsing ke Dugaan Penyalahgunaan Wewenang: Mengurai Sengkarut Hubungan Industrial di Lembata



Fasilitas yang belum selengkap kota besar menjadikan adaptasi sebagai terapi kolektif. Mereka mengandalkan komunikasi terapeutik, membaca bahasa tubuh pasien layaknya musisi menafsirkan partitur, penuh empati, penuh intuisi. Di awal penugasan, perbedaan logat sempat menghadirkan jarak.

“Awalnya kami perlu waktu memahami gaya komunikasi setempat. Sekarang kami mulai terbiasa, bahkan perlahan memahami bahasa daerah,” ujarnya.

Jauh dari keluarga, panggilan video menjadi penopang emosional. Rindu dikelola seperti latihan pernapasan diafragma, ditarik perlahan, dilepas terukur, agar tidak berubah menjadi sesak yang mengganggu ritme kerja.

Senyum pasien yang pulang dengan kondisi membaik menjadi semacam dopamin alami, penguat batin yang tak tertulis di lembar resep.

 

Baca Juga: Kasus TPPO di Eltras Cafe Maumere, Kapolda NTT: Tak Ada Ruang bagi Perdagangan Orang

“Ketika pasien datang kembali dengan wajah lebih cerah, ada energi baru. Di situ kami belajar, kehadiran dokter bukan hanya tentang farmakoterapi, tetapi juga tentang menghadirkan harapan,” ucapnya.

Di luar jam dinas, kebersamaan mereka menemukan ruang lain. Tepat di kompleks Puskesmas Waiwerang berdiri markas grup musik lokal, Fajar Band. Sapaan ringan berkembang menjadi sesi jamming selepas tugas, saat stetoskop disimpan dan gitar mulai dipetik dalam progresi akor yang hangat.

Vienna mengisi organ dengan harmoni lembut, sementara dr. Yeziel Sayogo memainkan gitar melodi dengan sentuhan legato yang lirih.

Dari ruang sederhana itu lahir single berjudul LDR (long distance relationship), ruang resonansi bagi rindu yang terpendam selama setahun di perantauan.

 

Baca Juga: Disdukcapil Flores Timur Respons Kritik Masyarakat: Pencetakan e-KTP Tetap Berjalan Meski Ada Kendala

“Lagu ini menjadi pengingat tentang pasangan yang jauh sekaligus tentang kebersamaan kami di Adonara. Ketika masa tugas berakhir, kebersamaan itu mencapai koda,” kata Vienna.

Pencipta lagu sekaligus drummer Fajar Band, Nusantara Bahy, mengenang awal kolaborasi tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini