“Kami sering berbincang sepulang mereka bertugas. Dari cerita tentang panggilan video dan hari panjang di ruang periksa, lahir lirik ‘LDR’. Emosi yang mereka bawa terasa organik,” katanya.
Aransemen disusun dalam tempo moderato dengan atmosfer intim dan reflektif. Tantangan muncul pada aspek teknik rekaman dan rasa percaya diri. Namun justru pada getar yang apa adanya, lagu itu menemukan nyawanya.
“Pertama kali saya kasih dengar lagu ini, keduanya sampaikan lagu ini sangat catchy, musiknya mudah diingat,” kata Nus.
Opin Bahy, organis Fajar Band. Ia menyebut para dokter telah menjadi bagian dari keluarga mereka.
“Apa yang kami makan di rumah, itu juga yang mereka nikmati. Saat perpisahan di Waiwerang, tangis tak bisa dibendung," kenang Opin.
Selama setahun di Flores Timur, para dokter muda itu menyaksikan bagaimana ilmu yang dipelajari bertahun-tahun menemukan maknanya di tengah keterbatasan. Mereka membaca gejala sekaligus membaca kehidupan, meresepkan terapi sambil merawat asa.
Di ujung timur Indonesia, pengabdian dan musik berjalin seperti dua nada dalam satu harmoni: menjaga tubuh, merawat jiwa, dan menjahit rindu melalui “LDR”.
Artikel Terkait
Rp268 Triliun untuk MBG Masuk Pos Pendidikan, Pemohon Sebut Langgar Konstitusi
Batasan Masa Berlaku Kuota Internet Prabayar Digugat ke MK, Pengemudi Ojol dan Lembaga Demokrasi Uji UU Perlindungan Konsumen dan Cipta Kerja
Pasal 9 UU Peradilan Militer Digugat, MK Didesak Hentikan Dominasi Yurisdiksi Militer atas Pidana Umum
Dari Skorsing ke Dugaan Penyalahgunaan Wewenang: Mengurai Sengkarut Hubungan Industrial di Lembata
Polda NTT Selidiki Proyek Rabat Beton Rp11 Miliar di Tanjung Bunga, Audit Terkendala Anggaran