opini

Opini: Normalisasi Moke dan Diamnya Isu Psikologis di Baliknya

Senin, 19 Januari 2026 | 22:22 WIB
Ilhamsyah Muhammad Nurdin, M.Psi. (Dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Maumere.)

Oleh: Ilhamsyah Muhammad Nurdin, M.Psi.

 

 

Apakah moke harus selalu dilihat semata-mata sebagai budaya yang tak boleh disentuh kritik, atau justru sebagai fenomena sosial yang perlu dibaca lebih jujur, termasuk dari sisi psikologinya? Pertanyaan ini muncul bukan dari jarak yang jauh, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari bersama masyarakat Maumere, menyaksikan bagaimana moke hadir, diterima, dan dinormalisasi dalam berbagai ruang kehidupan.

 

Sebagai orang yang berasal dari luar tetapi kini hidup dan menetap di Maumere, tulisan ini tidak lahir dari posisi menghakimi, melainkan dari upaya memahami. Hidup bersama masyarakat membuka kesadaran bahwa moke bukan sekadar minuman keras, tetapi memiliki makna sosial dan historis. Ia hadir dalam ritus, perayaan, relasi kekeluargaan, dan menjadi simbol kebersamaan. Dalam perspektif psikologi budaya, praktik semacam ini berfungsi sebagai perekat sosial dan penanda identitas kolektif.

 

Namun persoalan mulai muncul ketika batas antara moke sebagai simbol budaya dan moke sebagai kebiasaan konsumsi sehari-hari menjadi semakin kabur. Normalisasi terjadi ketika moke tidak lagi hadir dalam konteks tertentu, tetapi menjadi bagian rutin dari kehidupan sosial. Dari sudut pandang psikologi, perubahan fungsi ini penting dicermati. Sesuatu yang awalnya bermakna simbolik dapat berubah menjadi alat regulasi emosi, seperti cara mengelola stres, kelelahan hidup, dan tekanan ekonomi yang terus menghimpit.

 

Baca Juga: Mayat Pensiunan TNI Ditemukan di Kali Perbatasan RI–Timor Leste, Polisi Ungkap Identitas Ganda Korban

 

Di titik ini, isu psikologis sering kali menjadi senyap. Minum dianggap hal biasa, wajar, bahkan perlu. Jarang ada ruang untuk bertanya apakah di balik konsumsi itu tersimpan kelelahan mental, kecemasan, kemarahan, atau rasa putus asa yang tidak menemukan saluran lain. Psikologi menyebut kondisi ini sebagai coping maladaptif, yaitu strategi bertahan yang memberi kelegaan sesaat, tetapi menyimpan risiko jangka panjang bagi kesehatan mental, relasi keluarga, dan kohesi sosial.

 

Namun, membaca moke semata dari sudut bahaya psikologis juga tidak adil. Dalam realitas Maumere, moke bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga soal produksi dan penghidupan. Bagi banyak keluarga, moke adalah sumber ekonomi yang nyata, stabil, dan diwariskan lintas generasi. Dalam keterbatasan lapangan kerja, moke menjadi salah satu cara bertahan hidup. Di sinilah dalil ekonomi berdiri kokoh dan sulit dibantah. Ketika moke menjadi penopang dapur keluarga, kritik terhadapnya sering kali dipersepsikan sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup.

Halaman:

Tags

Terkini

OPINI: Ilusi Kesejahteraan Guru

Minggu, 30 November 2025 | 17:43 WIB

Urgensi Pendidikan Agama dalam Membangun Karakter Bangsa

Selasa, 18 November 2025 | 23:11 WIB

Opini: Simalakama AI Untuk Media Massa

Selasa, 30 September 2025 | 07:15 WIB

Opini | Perihal Pungutan Sekolah  Negeri

Rabu, 19 Juni 2024 | 17:23 WIB

Catatan: Menyambut Bulan Suci Ramadan 1445 H

Selasa, 12 Maret 2024 | 00:17 WIB