REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Kelompok teater independen Nara Teater memulai tur pementasan karya terbarunya bertajuk “Ibu Tanah” di Desa Nayubaya, Kecamatan Wotan Ulumado, Kabupaten Flores Timur, Kamis (17/7).
Pentas ini digelar di lapangan voli SDI Basrani pukul 19.30 WITA, dan menjadi titik pertama dalam rangkaian pertunjukan yang akan melintasi wilayah Lembata, Solor hingga daratan Flores.
Disutradarai oleh Silvester Petara Hurit, Ibu Tanah merupakan karya teater yang mengupas sejarah luka masyarakat akibat praktik adu domba sejak era kolonial, pendudukan kerajaan Majapahit dan Ternate, hingga eksploitasi sumber daya dan budaya oleh kekuatan dominan hari ini.
Baca Juga: TNI AL Salurkan 386 Batang Pipa Air untuk Atasi Krisis Air Bersih di Ile Boleng
“Penjajahan fisik memang telah berlalu, tapi semangatnya terus hadir dalam bentuk-bentuk baru yang menguasai dan memecah masyarakat. Inilah yang kami refleksikan dalam Ibu Tanah,” ujar Silvester kepada wartawan usai gladi resik pementasan.
Menurutnya, karya ini lahir dari pelacakan mitos, sejarah lokal, dan narasi-narasi minor yang selama ini jarang mendapat ruang dalam sejarah resmi.
“Kami memilih Nayubaya karena nilai ‘baya’, persekutuan, adalah kunci budaya Lamaholot. Ini penting sebagai penanda bahwa kekuatan masyarakat ada dalam persatuan,” tambahnya.
Baca Juga: Dikira Boneka Jerami, Ternyata M4yat! Penemuan Mengejutkan Buruh Tani di Sawah Kediri
Pementasan ini juga tidak hanya menjadi ajang ekspresi seni, tapi juga sebagai upaya membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan tanah mereka.
Nara Teater, yang dikenal kerap mengangkat tema sosial dan sejarah dalam karya-karyanya, menyebut pertunjukan ini sebagai "fiksi pertunjukan", realitas imaginatif yang mendorong publik berpikir kritis terhadap kehidupan hari ini.
“Tujuan pementasan ini jelas: jaga tanah kita, laut kita, langit kita. Jangan ulang sejarah penguasaan dan keterpecahan. Kita harus belajar dari pengalaman, baik luka maupun keberanian di masa lalu,” tegas Silvester.
Baca Juga: Sosok di Balik Kematian Notaris Sidang Alatas Bikin Geleng- geleng Kepala!
Ketua Nara Teater, Rin Wali, menyebut Ibu Tanah sebagai ruang pertemuan antara teater dan masyarakat.
“Ini tidak hanya tontonan. Di atas panggung dan di antara penonton, terjadi proses saling baca dan saling isi,” katanya.