Dibakar Dalam Bambu, Tapa Kolo Jadi Simbol Syukur Panen di Manggarai Timur

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Sabtu, 18 Oktober 2025 | 22:15 WIB
Inilah proses pembakaran atau tapa kolo merupakan makanan khas masyarakat Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. (Foto/ Acong Harson)
Inilah proses pembakaran atau tapa kolo merupakan makanan khas masyarakat Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. (Foto/ Acong Harson)

 

REPORTASENTT.COM, BORONG- Kolo atau yang lebih dikenal dengan sebutan tapa kolo merupakan makanan khas masyarakat Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terbuat dari beras merah dan dimasak dengan bambu melalui proses pembakaran.


Makanan tradisional ini biasanya disajikan dalam berbagai acara adat, terutama saat upacara penti atau syukuran panen.

Selain sebagai hidangan khas, tapa kolo juga mengandung nilai-nilai simbolik yang kuat bagi masyarakat Manggarai Timur.



Baca Juga: Agotugu FC Didiskualifikasi dari Liga 1 Flores Timur, Dilarang Bertanding Lima Tahun



“Tapa kolo memiliki filosofi sebagai simbol syukur atas panen dan kehidupan yang telah dilalui.

Dalam tradisi Manggarai Timur, tapa kolo juga memiliki nilai sakral dan tidak sembarang dilakukan,” ujar Tua Teno (kepala adat) Wilhelmus Gas kepada Kepala Adat Suku Deru Ara, Desa Benteng Raja, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, saat acara penti pada Sabtu (18/10/2025).


Proses pembuatan tapa kolo tergolong unik. Beras merah terlebih dahulu dibersihkan, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu kecil yang dialasi daun enau muda.



Baca Juga: Dua Tersangka Ditetapkan dalam Kasus Korupsi Puskesmas Paga, Kejari Sikka Ungkap Kerugian Hampir Rp2 Miliar



Setelah itu, bambu dibakar selama sekitar satu jam hingga matang sempurna.


Hasilnya, nasi tapa kolo memiliki rasa gurih dan aroma khas bambu yang menggugah selera.

Biasanya, tapa kolo dinikmati bersama lauk pauk khas seperti daging ayam atau babi yang dimasak dengan bumbu santan.



Baca Juga: Konten Pro-LGBT di Netflix Disorot DPR, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sentil Elon Musk



Kehadiran hidangan ini menjadi pelengkap dalam setiap ritual adat, menegaskan hubungan erat antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam budaya Manggarai Timur.

 

 

Penulis: Acong Harson

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X