REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Pasca insiden kericuhan dalam pertandingan Agotugu vs Amposh di ajang Liga 1 Flores Timur 2025, pemilik Lapangan Ape Buan, Petensily Achmad Tokan, menyampaikan keprihatinan mendalam.
Dalam unggahan media sosialnya, Achmad menyoroti lemahnya pengamanan yang disiapkan panitia pelaksana, dalam hal ini Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Flores Timur.
Dalam pernyataannya bertajuk “Keprihatinan yang Mendalam”, yang ia posting melalui grup Adonara Football News, Achmad menilai pihak Askab tidak belajar dari insiden serupa yang pernah terjadi di turnamen Apebuan Cup Perdana, saat laga Gagak Hitam vs Rokokolipadan juga diwarnai kekisruhan.
“Peristiwa yang menimpa wasit pada pertandingan antara Ampos dan Agotugu menunjukkan bahwa pihak penyelenggara tidak belajar dari kejadian sebelumnya. Ini persoalan yang sangat serius dan tidak bisa dipandang enteng,” tulis Achmad.
Ia pun mengingatkan, apabila ke depan pihak Askab tidak mampu memberikan pengamanan maksimal, maka Apebuan Stadion bisa menjadi arena kekacauan baru.
Menurutnya, menyalahkan pemain, wasit, atau suporter bukan solusi utama, melainkan memastikan kekuatan aparat keamanan yang memadai di setiap laga.
“Apabila pengamanan tidak dipersiapkan secara matang dan dalam jumlah yang besar, maka langkah terbaik adalah tidak lagi melanjutkan Liga 1 2025 di Apebuan Stadion. Jangan lagi ada darah yang mengalir sia-sia di stadion ini,” kata Achmad.
Postingan Petensily Achmad Tokan.
Netizen Ikut Angkat Suara
Unggahan tersebut sontak mendapat beragam reaksi dari warganet.
Sejumlah akun Facebook turut menanggapi dengan pandangan berbeda terkait masalah keamanan dan tanggung jawab penyelenggara.
Akun @Syifa Printing menyoroti keberadaan aparat yang tidak berada di posisi strategis.
“Pihak keamanan yang dihadirkan panitia hampir sebagian duduk di tribun VIP. Panitia tidak bisa berbuat banyak karena hanya berharap pada polisi dan TNI. Mari berbenah,” tulisnya.
Sementara akun @Hobby Bola menilai jumlah aparat di lapangan terlalu sedikit.
“Pertandingan tensi tinggi begini tapi anggota Polri dan TNI hanya sedikit. Kejahatan itu bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan,” komentarnya.
Akun lain, @Randdy Moronne, sependapat dengan Achmad Tokan.
“Penyelenggara seharusnya selalu menanamkan sikap skeptis di setiap pertandingan dengan menyiapkan keamanan yang ketat agar semua merasa aman dan nyaman,” ujarnya.
Namun, sebagian netizen juga mengingatkan bahwa keamanan bukan satu-satunya solusi.
Akun @OM Bejo menekankan pentingnya kesadaran bersama.
“Tanpa kesadaran memiliki sepak bola sebagai hiburan, semua itu sia-sia. Klub yang terlibat kericuhan sebaiknya diberi sanksi tegas agar menjadi efek jera,” tulisnya.
Netizen lainnya, seperti @Syamsudin Embutara, bahkan mengusulkan agar laga berikutnya tidak lagi digelar di Stadion Apebuan sampai situasi benar-benar kondusif.
Baca Juga: Patrick Kluivert Dipecat! Erick Thohir Buka Suara, Pihak Istana Turut Beri Respons Mengejutkan
“Kalau Askab tidak memperketat keamanan, lebih baik pertandingan selanjutnya dipindahkan dulu ke lapangan lain untuk menetralkan situasi,” ujarnya.
Meski banyak komentar bernada kritik, sebagian warganet menilai momentum ini bisa menjadi refleksi bersama untuk membenahi sepak bola di Flores Timur.
Akun @Achmad Yani menulis,
“Mari kita selesaikan secara Lamaholot. Kita jaga pemain dan suporter agar tetap sportif.”
Baca Juga: Kasus Pencurian Material Proyek SD di Tanggo Molas, Polisi Lakukan Olah TKP untuk Perkuat Bukti
Sementara @Alie Baihakie mengingatkan agar semua pihak memahami aturan pertandingan.
“Jika ada pelanggaran oleh wasit, lakukan protes resmi, bukan dengan kekerasan,” katanya.
Dan @Bintang Kejora menutup diskusi dengan pesan sederhana,
“Kita bisa salahkan siapa pun, tapi kalau kesadaran dalam diri tidak ada, sama saja.”
Artikel Terkait
MK Nilai ASN Rentan Intervensi Politik, Pemerintah Diperintahkan Bentuk Lembaga Pengawas Independen
MK Tolak Gugatan Soal Kawasan Hutan, tapi Sentil Pemerintah soal Kepastian Hukum
Pelarian Bento Berakhir di Belu: Polisi Bongkar Kasus Pembunuhan Pedagang Semangka
Kebebasan Pers Terancam di TTU, Pemred ViralNTT Tuntut Keadilan untuk Aurelius Kolo
10 Keluhan Guru Flores Timur, dari TPP Misterius hingga Rapelan yang Tak Kunjung Cair