Jejak Pengabdian SSpS di Balela: Sejarah Ketangguhan Misi Sejak 1925 di Larantuka

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Sabtu, 10 Mei 2025 | 18:38 WIB
Kapel SSpS di Balela, Kecamatan Larantuka,  Kabupaten Flores Timur.  (Foto/ Tarwan Stanis)
Kapel SSpS di Balela, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. (Foto/ Tarwan Stanis)

 

REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Sejarah berdirinya Komunitas SSpS St. Fransiskus Xaverius Balela di Larantuka, Flores Timur, adalah kisah panjang tentang ketekunan, pengabdian tanpa pamrih, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan misi.

Sejak 1925, para suster dari Kongregasi SSpS menjadi ujung tombak dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan di wilayah timur Indonesia, menggantikan peran para Fransiskanes Belanda yang hengkang setahun sebelumnya.

Krisis dimulai pada tahun 1924 saat pimpinan kongregasi Fransiskanes memutuskan menarik seluruh suster dari Larantuka ke Jawa.

Baca Juga: Dari Kolekte ke Kemanusiaan: Jejak Umat Katolik di Jantung Dana Vatikan

Langkah itu menjadi pukulan telak bagi Mgr. Arnold Verstralen, SVD, Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil.

Upaya mempertahankan para suster gagal, dan pada April 1925, karya pendidikan yang dimulai sejak 1879 oleh Fransiskanes pun terancam vakum.

Menanggapi situasi tersebut, Mgr. Verstralen meminta bantuan Kongregasi SSpS di Lela, Maumere.

Baca Juga: Hasan Nasbi Ajukan Mundur, Prabowo Menolak: Mensesneg Ungkap Alurnya

Tanggapan cepat datang dari Sr. Wilibrorda, SSpS, yang mengutus lima suster untuk mengambil alih misi di Larantuka: Sr. Wilibrorda, Sr. Amadea Imants, Sr. Serafica Smits, Sr. Amandia Branderhorst, dan Sr. Nolana Rahe.

Kelima suster memulai perjalanan misi pada 19 April 1925, menempuh jalur darat dan laut yang sulit dari Maumere menuju Larantuka, dibantu oleh masyarakat dan Raja Sikka, Thomas Ximenes da Silva.

Setibanya di Balela, mereka langsung melanjutkan pengelolaan Standard School dan asrama putri, serta memberikan pendidikan keterampilan hidup bagi anak-anak.

Baca Juga: Kardinal Robert Prevost Terpilih Menjadi Paus Leo XIV, Trump: Kehormatan Besar bagi Amerika

Tak hanya di bidang pendidikan, perhatian juga diarahkan pada pelayanan kesehatan.

Pada 9 Desember 1926, Sr. Secundina, SSpS,  mantan misionaris di Afrika, mulai melayani di Rumah Sakit Kerajaan Larantuka, menandai awal kontribusi SSpS di sektor kesehatan Flores Timur.

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X