“Ada yang hampir tidak pernah makan daging di rumah,” tutur dia.
Baca Juga: Ombudsman NTT Warning Praktik Pungutan PIP, Masyarakat Diminta Aktif Melapor
Kisah keluarga Marselinus juga menyisakan catatan pilu.
Kakaknya disebut berprestasi, tetapi hanya mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat SMP akibat keterbatasan biaya.
Potret Marselinus menjadi cermin persoalan yang lebih luas.
Jika YBR di Ngada mengguncang perhatian nasional, kondisi serupa juga hadir di banyak sudut lain di Nusa Tenggara Timur.
Sepatu rusak dan senyum tulus Marselinus memperlihatkan realitas kemiskinan yang masih membayangi dunia pendidikan, sekaligus mengingatkan semua pihak tentang tanggung jawab bersama memperbaiki keadaan.