“Ada yang hampir tidak pernah makan daging di rumah,” tutur dia.
Baca Juga: Ombudsman NTT Warning Praktik Pungutan PIP, Masyarakat Diminta Aktif Melapor
Kisah keluarga Marselinus juga menyisakan catatan pilu.
Kakaknya disebut berprestasi, tetapi hanya mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat SMP akibat keterbatasan biaya.
Potret Marselinus menjadi cermin persoalan yang lebih luas.
Jika YBR di Ngada mengguncang perhatian nasional, kondisi serupa juga hadir di banyak sudut lain di Nusa Tenggara Timur.
Sepatu rusak dan senyum tulus Marselinus memperlihatkan realitas kemiskinan yang masih membayangi dunia pendidikan, sekaligus mengingatkan semua pihak tentang tanggung jawab bersama memperbaiki keadaan.
Artikel Terkait
Kontroversi Wakaf Al-Qur’an, Taqy Malik dan Randy Permana Bersilang Data Soal Harga Mushaf
Anak-anak Belajar di Bawah Tenda: Mengurai Fakta Robohnya SMPN 48 Sa Ate Gaikiu Kabupaten Sikka
Jaga Stabilitas Harga Menjelang Puasa, Polresta Kupang Kota Bersama Instansi Terkait Gelar Sidak
Anak di Bawah Umur Diduga Curi Mesin Mebel di Oebufu, Kasus Diselesaikan Secara Restoratif
Puluhan Warga Purworejo Keracunan Usai Kenduri Ruwahan, BGN Pastikan Bukan dari Program Makan Bergizi