REPORTASENTT.COM, JAKARTA – Nama Prof. Sumitro Djojohadikusumo kembali bergaung di Senayan. Gagasannya yang pernah dianggap sekadar catatan sejarah, kini muncul lagi dalam tubuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Sumitronomics,” istilah yang dirumuskan Sumitro puluhan tahun lalu, kini dipakai sebagai arah baru pembangunan nasional.
Sumitronomics menekankan nasionalisme ekonomi, dorongan industrialisasi, dan perlindungan kepentingan domestik.
Tiga gagasan klasik yang kini dibawa masuk ke ruang rapat paripurna DPR RI oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Selasa, 23 September 2025.
Di hadapan para legislator, Purbaya, pengganti Sri Mulyani, menegaskan mesin pertumbuhan Indonesia harus berlari bersama.
“Untuk jadi negara maju, strategi pembangunan Indonesia berbasis pada Sumitronomics yang berbasiskan tiga pilar utama: pertumbuhan tinggi, pemerataan pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis,” ujarnya.
Namun di balik narasi besar itu, Purbaya memilih jalan berbeda.
Baca Juga: Korupsi Pembangunan Dermaga Wisata Gua Rangko di Manggarai Barat, Polisi Blokir Aset Tersangka
Langkah-langkahnya disebut publik sebagai “koboi”, cepat, berani, kadang melawan pakem lama.
Salah satunya, mengalihkan Rp200 triliun dana pemerintah dari Bank Indonesia ke bank-bank milik negara.
Tujuannya sederhana: memperbesar likuiditas, mendorong kredit, menggairahkan konsumsi, dan menarik investasi.
Tak cukup di situ, ia menyiapkan deregulasi izin usaha dan satgas khusus untuk membongkar kebuntuan proyek strategis.
Langkah koboi ini sontak mengundang dua arus besar: tepuk tangan dan keraguan. Pasar memberi sinyal positif, tercermin dari penetapan imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang lebih moderat di angka 6,9 persen.
Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, bahkan menyebut gaya koboi Purbaya bisa melonggarkan ketatnya pasar keuangan.
Tetapi di sisi lain, pertanyaan muncul: apakah strategi ini cukup kuat menahan badai global? Risiko inflasi, fluktuasi kurs, hingga gejolak pasar dunia bisa sewaktu-waktu menjegal ambisi pemerintah.
Target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan kerap terdengar lebih sebagai impian ketimbang kepastian.
Sejarah mencatat, Sumitronomics lahir dari ide besar nasionalisme ekonomi. Kini, nasibnya ada di tangan Purbaya.
Artikel Terkait
Diduga Karena Tarif, Sopir Taksi Aniaya Penumpang di Pelabuhan Tenau Kupang
Servis Motor Capai Rp 20 Juta, Baru 100 Meter Sudah Mogok, Pendeta di Yahukimo Meradang
Soal Rehab Ruangan, Warga Ancam Tutup Sekolah di Ende
Korupsi Pembangunan Dermaga Wisata Gua Rangko di Manggarai Barat, Polisi Blokir Aset Tersangka
Mikrofon Mati, Sidang PBB Tersendat Saat Palestina Dibahas