REPORTASENTT.COM- Hari Raya Idul Fitri 2026 berlangsung dalam suasana yang berbeda di sejumlah wilayah Timur Tengah. Di tengah konflik regional, peringatan keamanan, dan krisis kemanusiaan, perayaan yang biasanya identik dengan kebersamaan berubah menjadi lebih sederhana dan penuh kehati-hatian.
Di berbagai negara, aparat meningkatkan pengamanan selama periode Idul Fitri. Organisasi kemanusiaan melaporkan memburuknya kondisi di sejumlah zona konflik, sementara masyarakat merayakan hari raya dalam keterbatasan, bahkan di pengungsian.
Di Arab Saudi, pengamanan diperketat selama salat Id. Jamaah diminta waspada di area publik dan pusat keramaian. Masjidil Haram di Mekkah tetap dipadati umat, dengan pengawasan ketat dan sistem pertahanan yang disiagakan di sejumlah titik strategis.
Baca Juga: Lebaran di Flores Timur, Harmoni Lintas Iman Menguat dalam Tradisi Halal Bihalal Adonara
Di Uni Emirat Arab, perayaan publik mengalami penyesuaian. Sejumlah acara hiburan dikurangi skalanya, termasuk pertunjukan kembang api.
Gangguan penerbangan turut memengaruhi mobilitas masyarakat selama libur Idul Fitri, meski pemerintah tetap menetapkan libur nasional pada 19–22 Maret dengan pengawasan ruang publik yang ditingkatkan.
Negara-negara Teluk seperti Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman juga menjalankan perayaan dalam suasana waspada.
Baca Juga: Remaja Tewas Tenggelam di Embung Nekamese, Respons Cepat Brimob Ungkap Minimnya Pengamanan
Pengamanan diperketat di pusat transportasi dan lokasi berkumpul. Di saat yang sama, Oman menjalankan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan kawasan, disertai koordinasi kemanusiaan antarnegara.
Di Lebanon, Idul Fitri berlangsung di tengah krisis kemanusiaan besar. Lebih dari 820 orang dilaporkan meninggal dan sekitar satu juta lainnya mengungsi.
Serangan terhadap fasilitas kesehatan menyebabkan puluhan korban dan memaksa banyak klinik serta rumah sakit berhenti beroperasi. Banyak keluarga merayakan hari raya di tempat pengungsian.