mancanegara

Dari Pengungsi Vietnam ke Tradisi Natal: Perubahan Budaya dalam Keluarga Yvonne di Australia

Kamis, 26 Desember 2024 | 22:09 WIB
Hias pohon Natal. (Foto ilustrasi)


REPORTASENTT.COM- Tradisi Natal memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap keluarga, termasuk bagi keluarga Yvonne C. Lam, seorang dokter yang berbagi kisah mengharukan tentang bagaimana keluarganya memulai tradisi Natal dengan kreativitas sederhana.

Sebagai pengungsi dari Vietnam yang tiba di Australia pada akhir 1970-an, keluarga besar Yvonne awalnya tidak merayakan Natal.
 
Sebagai penganut agama Buddha, perayaan tersebut bukan bagian dari budaya mereka.
 
 Baca Juga: Oposisi Korea Selatan Ajukan Mosi Pemakzulan terhadap Penjabat Presiden Han Duck-soo, Krisis Politik Semakin Memanas
 
Namun, kehadiran anak-anak kecil membawa perubahan.
 
"Kami mulai merayakan Natal dengan cara kami sendiri," ujar Yvonne.

Salah satu momen tak terlupakan terjadi ketika Yvonne dan sepupu-sepupunya masih kecil.
 
 Baca Juga: Trump Nominasi Kevin Cabrera Jadi Duta Besar Panama, Apa Dampaknya pada Terusan Panama?
 
Mereka membuat pohon Natal darurat di garasi bawah tanah milik nenek mereka, Bà Nội.
 
Pohon itu dibuat dari tabung kardus bekas gulungan kain, bahan yang tersedia karena keluarga mereka berkecimpung dalam bisnis tekstil.
 
Ember plastik menjadi alasnya, dan silinder-silinder kardus disatukan untuk membentuk batang pohon.
 
 Baca Juga: Arne Slot Waspadai Van Nistelrooy Setelah Pertarungan Eredivisie, Liverpool Fokus Hadapi Leicester di Boxing Day
 
Pohon sederhana itu dihias dengan perada dan mahkota bintang di puncaknya.
 
“Meskipun sederhana dan sedikit berbau apek, pohon itu menjadi pusat kegembiraan kami,” kenang Yvonne.

Suatu malam, pohon kardus itu menjadi latar untuk sesi foto Natal keluarga.
 
 Baca Juga: Polres Pesisir Barat Ingatkan Warga Waspadai Keberadaan Harimau di Pekon Rawas
 
Anak-anak bergiliran berpose dengan kostum seadanya sebagai Sinterklas dan peri.
 
Namun, kenangan bahagia ini diselingi dengan insiden menggelikan beberapa hari kemudian.

Bà Nội, yang berjalan ke ruang bawah tanah pada malam hari, melihat kilauan perada di tengah kegelapan.
 
 Baca Juga: Kapolresta Bandar Lampung Kunjungi Driver Ojek Online Korban Perampasan, Ada Bantuan yang Mengejutkan!
 
Dalam kebingungannya, ia mengira pohon itu adalah perwujudan Buddha.
 
Bahkan, ia sempat berpikir dirinya telah meninggal dan memasuki alam baka.

“Kami tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu,” kata Yvonne.
 
 Baca Juga: Polisi Ungkap Kronologi Kebakaran Kapal Mulia Nusantara di Telaga Punggur, Batam!
 
"Bukan karena kesalahan nenek, tetapi karena sulit membayangkan beliau, pemimpin keluarga kami, berpikir dirinya telah meninggal."

Meski tampak abadi di mata keluarga, waktu akhirnya berbicara. Dua dekade setelah peristiwa itu, Bà Nội meninggal dunia pada usia 99 tahun.
 
Salah satu sepupu Yvonne, yang saat itu berperan sebagai peri dalam sesi foto Natal, telah menjadi dokter perawatan paliatif dan merawat nenek mereka dengan penuh kasih hingga akhir hayatnya.
 
Baca Juga: Usai Tugas Amankan Pilkada 2024: Momen Haru Kapolres Puncak Jaya Lepas Personel Brimob

Kini, tradisi Natal keluarga terus berkembang.
 
"Tahun lalu, kami merayakan Natal pertama tanpa kehadirannya di rumah," ujar Yvonne.
 
Di apartemennya di Sydney, Yvonne belum membuat pohon Natal.
 
 Baca Juga: Wapres Gibran Rakabuming Tanggapi Penetapan Hasto Kristiyanto Sebagai Tersangka KPK
 
"Tapi saya tahu, ketika putri saya mulai bertanya tentang Sinterklas dan pohon Natal, mungkin kami akan kembali membuatnya."

Yvonne berencana menghidupkan kembali kenangan itu dengan bahan sederhana yang sama, kardus dan perada, meneruskan tradisi yang penuh cinta dan kenangan tak tergantikan.

Tags

Terkini