Benny Wenda menyebut bahwa kerusakan di Raja Ampat bukan hanya soal lingkungan. Tapi tentang peradaban.
Tentang identitas. Tentang eksistensi.
"Ketika alam dirusak, bukan hanya karang yang menangis, tetapi juga hati nurani. Raja Ampat adalah nafas kehidupan yang berdenyut di antara karang dan ombak," katanya.
Baca Juga: Gubernur NTT Melki Laka Lena Bikin Kejutan di Ende: Pancasila Harus Hidup Lewat Seni dan Ekonomi Rakyat
Menurut aktivis yang pernah berbicara di PBB dan Parlemen Eropa ini, eksploitasi tambang adalah bentuk perampasan hak hidup orang asli Papua.
Ia menyerukan kampanye global, Save Alam Papua dan, Papua Bukan Tanah Kosong.
"Luka di tanah ini adalah luka kita semua. Jangan biarkan keindahan berubah jadi kenangan yang disesali," pungkasnya.
Baca Juga: IHS Kunjungi Adonara, Warisan Budaya Lamahelan Tuai Pujian Komunitas Internasional
Siapa Benny Wenda?
Benny Wenda (lahir 1975) adalah Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP), pelobi internasional yang sejak 2003 tinggal di pengasingan di Inggris.
Ia memperoleh suaka politik setelah melarikan diri dari tahanan di Indonesia.
Wenda dikenal aktif menyuarakan kemerdekaan Papua di panggung internasional, mulai dari PBB hingga Parlemen Inggris.
Baca Juga: Kasus 'Mawar' di Kupang, Pelaku Akhirnya Dilimpahkan ke Kejaksaan
Pada 2020, ia bahkan mendeklarasikan konstitusi dan pemerintahan sementara Republik Papua Barat.
Meski demikian, statusnya sebagai Presiden sementara masih menuai kontroversi di kalangan pejuang bersenjata Papua.