IHS Kunjungi Adonara, Warisan Budaya Lamahelan Tuai Pujian Komunitas Internasional

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Selasa, 3 Juni 2025 | 22:06 WIB
Anggota Indonesian Heritage Society saat melihat Balai Adat Desa Helanlangowuyo (Lamahelan).
Anggota Indonesian Heritage Society saat melihat Balai Adat Desa Helanlangowuyo (Lamahelan).

 

REPORTASENTT.COM, ADONARA- Kampung Adat Lamahelan di Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi pusat perhatian komunitas pelestari budaya internasional.

Senin (2/6/2025), Indonesian Heritage Society (IHS) melakukan kunjungan budaya untuk mengenal lebih dekat tradisi adat masyarakat Lamahelan.

Organisasi yang berbasis di Jakarta ini membawa sembilan anggotanya dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang, Swiss, dan Indonesia.

Baca Juga: Gubernur NTT Melki Laka Lena Bikin Kejutan di Ende: Pancasila Harus Hidup Lewat Seni dan Ekonomi Rakyat

Ini merupakan kali pertama IHS menyambangi wilayah Adonara, yang selama ini diketahui memiliki kekayaan budaya yang masih terjaga secara turun-temurun.

Tarian Gawe Au, dari sanggar Pokdarwis Helanlangowuyo. (Foto Tim)

Kehadiran mereka disambut dengan upacara adat, tarian tradisional, tarian nige dan hedung, serta pemaparan menyeluruh mengenai struktur sosial masyarakat Kampung Lamahelan.

Para tamu juga diajak mengunjungi rumah-rumah adat dan menyimak kisah-kisah warisan budaya yang terus hidup dalam keseharian masyarakat setempat.

Baca Juga: Siapa Achmad Peten Sili, yang Merelakan Lahan Warisan Leluhur untuk Stadion Apebuan di Adonara

“Kami sangat terkesan dengan perayaan hangat masyarakat. Atraksi budaya seperti tarian adat dan penjelasan rumah adat sangat membekas di hati kami,” ujar Koordinator Heritage Tours IHS, Griselda Merrie, kepada Reportase NTT.

Gading Gajah Tua, Simbol Sejarah dan Spiritualitas

Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah ketika rombongan ditampilkan menampilkan gading gajah tua yang diwariskan secara turun-temurun.

Gading ini diyakini memiliki nilai historis dan spiritual tinggi, serta menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus adat dan identitas komunal masyarakat.

Selain itu, peserta tur juga menyaksikan langsung proses penyulingan arak tradisional dari pohon lontar, dan mempelajari peran penting bale adat dalam pengambilan keputusan kolektif dan pelaksanaan upacara-upacara sakral.

Baca Juga: Sosok Irjen Rudi Darmoko, Kapolda NTT Baru yang Bikin Publik Penasaran

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X