REPORTASENTT.COM, NAGEKEO- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena meninjau lokasi bencana banjir bandang di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Rabu, 17 September 2025.
Ia didampingi Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, Wakil Bupati Gonzalo Gratianus Muga Sada, serta Kapolres Nagekeo AKBP Rachmat Muchamad Salihi.
Selain melihat langsung titik terdampak, rombongan juga mengunjungi posko darurat untuk memastikan pelayanan kepada warga berjalan baik.
Baca Juga: Jabatan KabagOps Polres Ende Resmi Terisi, Kapolres Tekankan Regenerasi dan Kualitas Pelayanan
Di posko itu, pemerintah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
“Fokus utama kita saat ini adalah memastikan korban terdampak mendapatkan kebutuhan pokok. Setelah darurat teratasi, kita masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Melki dalam keterangan tertulis.
Sejak awal bencana, pemerintah provinsi bersama Pemkab Nagekeo, BNPB, TNI/Polri, serta instansi terkait terus berkoordinasi dalam penanganan darurat.
Wakil Gubernur NTT, Jhoni Asadoma, lebih dulu meninjau lokasi pada Sabtu, 13 September 2025.
Pada malam harinya, Melki juga mengunjungi rumah duka keluarga korban banjir di Mauponggo. “Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, saya menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga Tuhan memberikan kekuatan bagi semua yang berduka,” ujarnya.
Dampak Banjir Bandang
Banjir bandang melanda Kabupaten Nagekeo sejak 7 September, menerjang empat kecamatan, 31 desa, dan dua kelurahan.
Mauponggo menjadi wilayah terdampak paling parah.
Data BNPB mencatat, enam orang meninggal, tiga hilang, dan dua luka-luka.
Sebanyak 34.812 jiwa terdampak, sementara 73 kepala keluarga mengungsi ke rumah kerabat.
Kerugian material meliputi 33 rumah rusak berat, fasilitas pendidikan dan kesehatan, jaringan air bersih, serta 18 daerah irigasi.
Sejumlah lahan pertanian, perkebunan, jalan, dan jembatan ikut rusak.
Meski operasi pencarian korban rencananya dihentikan sore ini, tim SAR tetap siaga. Proses penyisiran terkendala material banjir berupa batu besar dan puing kayu yang menutup akses.
Bencana di Daerah Lain
BNPB juga mencatat sejumlah bencana lain pada periode 15–16 September 2025.
Banjir melanda Kabupaten Boalemo, Gorontalo, dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Di Boalemo, banjir setinggi satu meter menggenangi Desa Jati Mulya dan Desa Harapan, Kecamatan Wonosari.
Sebanyak 122 keluarga atau 390 jiwa terdampak, dengan 115 rumah terendam. Kondisi air kini berangsur surut.
Sementara itu, di Bogor, banjir terjadi di Desa Warujaya, Kecamatan Parung, dan Desa Cibinong, Kecamatan Gunung Sindur.
Peristiwa ini berdampak pada 20 keluarga atau 60 jiwa, dengan 20 rumah serta satu akses jalan terdampak.
Baca Juga: Propam Polda NTT Kawal Integritas, Ingatkan Polisi Manggarai Jaga Marwah Institusi
Selain itu, BNPB masih menangani banjir dan longsor di Bali sejak 9 September lalu.
Selain itu, BNPB masih menangani banjir dan longsor di Bali sejak 9 September lalu.
Tercatat 18 orang meninggal, 4 hilang, serta lebih dari 6.000 keluarga terdampak di tujuh wilayah, termasuk Denpasar, Gianyar, dan Jembrana.
Status Tanggap Darurat
Pemerintah Kabupaten Nagekeo menetapkan status tanggap darurat bencana cuaca ekstrem sejak 9 hingga 30 September 2025.
Kebutuhan mendesak mencakup pangan, air bersih, obat-obatan, tenda darurat, serta tambahan alat berat untuk mempercepat pemulihan.
BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat cuaca ekstrem diperkirakan masih terjadi di sejumlah wilayah.
Artikel Terkait
Setelah 11 Tahun Vakum, Festival Teater Pelajar Flores Timur Hadir Lagi, Angkat Tema Remaja Membaca Dirinya
Bupati Flores Timur: Festival Teater Pelajar Jadi Ruang Aktualisasi Generasi Muda
Hasan Nasbi Akhirnya Lengser, Prabowo Tunjuk Sosok ini sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan
Polisi di Kupang Dipecat: Upacara Tanpa Kehormatan, Bayang-bayang Etika yang Terkoyak
Jabatan KabagOps Polres Ende Resmi Terisi, Kapolres Tekankan Regenerasi dan Kualitas Pelayanan