REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Silvester Petara Hurit, seorang penulis yang lahir, tumbuh, merantau, dan akhirnya kembali menetap di kampung halamannya, Lewotala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merekam alam pikiran, perasaan, serta pergulatan hidupnya dalam karya-karya cerpennya.
Semua pengalaman dan perjalanan hidupnya tersebut terpantul dalam tiap ceritanya, meski dengan intensitas dan ketebalan yang berbeda-beda.
Dalam karyanya, Sil Hurit begitu pria yang biasa disapa ini tidak menyajikan kisah yang objektif, melainkan menghadirkan realitas fiksi yang kaya akan konflik dan kompleksitas manusia.
Baca Juga: Polisi Gagalkan Tawuran Remaja Berbekal Sajam, 8 Pelaku Diamankan
Sebagai penulis fiksi, Sil Hurit berani menggambarkan sisi gelap kehidupan, seperti hipokrisi, rekayasa peristiwa, kekejaman, kongkalikong kepentingan, dan pembalikan fakta.
Tema-tema yang ia angkat kerap menyinggung nafsu kuasa dan ambisi yang merusak ekosistem alam serta tatanan sosial-budaya.
Tak ketinggalan, ia juga menyoroti bagaimana nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal Lamaholot (Lewolema), kampung halamannya, terancam oleh arus ambisi manusia.
Melalui lanskap kultural Lewotala, Silvester mengingatkan pembacanya bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan sosial.
Setiap cerpen yang ia tulis membawa bocoran realitas kehidupan masyarakatnya, yang dipadukan dengan sentuhan imajinasi fiksi.
Ia menggoda pembaca untuk mempertanyakan apa yang selama ini diterima sebagai kebenaran, dan menghadirkan kemungkinan-kemungkinan lain dari realitas tersebut.
Artikel Terkait
Jual Paksa Minuman dan Tisu kepada Warga, 4 Preman Dibekuk Polisi
Guru Honorer Sukabumi Jadi Pemulung Viral, Dapat Hadiah Mengejutkan dari Kapolres Cimahi
Polda Ini Resmi Punya Direktorat Siber, Fokus Jaga Keamanan Pilkada 2024
Satlantas Pangandaran Kembali Terapkan Tilang Manual, AKP Asep Nugraha Jelaskan Alasan tidak Gunakan ETLE
Polisi Gagalkan Tawuran Remaja Berbekal Sajam, 8 Pelaku Diamankan