Tak sedikit yang meneteskan air mata, termasuk Charolin (33), seorang peziarah dari Kupang.
“Rasanya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di sini saya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Ada kedamaian dan kekuatan yang berbeda,” ungkapnya dengan mata brkaca- kaca.
Perjalanan menuju Desa Wure pun bukan tanpa cerita.
Baca Juga: Puncak Prosesi Jumad Agung di Larantuka, Ini Pesan Penting Panitia untuk Peziarah
Dari Pelabuhan Larantuka, para peziarah menyeberangi Selat Gonzalu menggunakan kapal motor.
Meski ombak dan arus kadang tak bersahabat, pesona bukit-bukit di sepanjang jalur laut menjadi penghibur sekaligus penguat semangat dalam perjalanan menuju kapela suci ini.
Tradisi ‘Cium Tuan’ bukan sekadar ritual ziarah biasa.
Baca Juga: Bisikan Gaib Bikin Nekat! Mahasiswa Pria Nyamar Jadi Jamaah Cewek, Pakai Mukena Masuk Barisan Wanita
Ini adalah warisan iman yang hidup, pengingat akan kasih dan pengorbanan Kristus, sekaligus momen refleksi bagi setiap insan yang datang, bahwa dalam diam dan hening, ada perjumpaan yang penuh makna dengan Sang Ilahi.