news

Kenangan Tak Terhapuskan di Tabali: Jejak Cinta Pater Luis Diaz dalam Iman Umat Sanjuan

Sabtu, 28 Juni 2025 | 09:21 WIB
Pater Aloysius Luis Diaz, SVD.

Sejak hari itu, nama itu menjadi roh dari lingkungan ini.

Sebuah kapela sederhana dibangun, dan diberi nama Kapela Hati Amat Kudus Yesus Tabali.

Nama yang kini tak hanya menandai tempat ibadah, tapi juga menjadi monumen kasih dan pengabdian dari sang Sabda.


Baca Juga: Menteri BKKBN Blusukan ke Timur! Gubernur NTT Siaga, Program KB Sasar Larantuka dan Solor

Dari Lebao ke Jakarta

Lahir pada 1 Maret 1926 di Lebao, Larantuka, Pater Luis Diaz menjalani pendidikan di sekolah rakyat dan standaardschool, lalu melanjutkan formasi imam di Seminari Santo Paulus Ledalero.

Ia ditahbiskan pada 28 Oktober 1952, dan sejak itu, seluruh hidupnya diabdikan untuk karya pastoral, terutama sebagai Pastor pertama Paroki Sanjuan, Lebao.

Imamatnya bukan hanya panggilan, melainkan perjalanan cinta yang panjang. Tiga tonggak perayaannya menjadi saksi ketekunan:

▪︎ 25 tahun (Perak) - 1978, Matraman

▪︎ 50 tahun (Emas) – 2002, Pademangan
▪︎ 60 tahun (Intan) – 2012, Pademangan

Baca Juga: Di Alor, 119 Warga Dijanjikan Kerja di Morewali, Ternyata Dijebak Sindikat Perdagangan Orang

Hingga akhir hayatnya di RS Sint Carolus, Jakarta, pada 2 November 2020, ia tetap menjadi imam yang setia, dalam doa, dalam pelayanan, dalam cinta yang hening.

Hidup dalam Doa, Hidup dalam Kenangan

Kini, setiap lilin yang menyala di Kapela Hati Amat Kudus Yesus Tabali bukan hanya nyala devosi, tapi juga pelita kenangan.

Doa-doa yang terlantun di sana membawa serta bisikan cinta dari seorang imam tua yang hatinya tak pernah meninggalkan umat.


Baca Juga: Pemuda Mabuk di Kupang Ngamuk Bawa Sabit, Kejar Warga! Polisi Diserang, Aksi Nekat Dibalas Tindakan Tegas!

Pater Luis Diaz mungkin telah pergi secara fisik, tetapi jejak langkahnya terpatri di tanah Tabali, di hati umat yang mencintainya.

Halaman:

Tags

Terkini