Sejak hari itu, nama itu menjadi roh dari lingkungan ini.
Sebuah kapela sederhana dibangun, dan diberi nama Kapela Hati Amat Kudus Yesus Tabali.
Nama yang kini tak hanya menandai tempat ibadah, tapi juga menjadi monumen kasih dan pengabdian dari sang Sabda.
Baca Juga: Menteri BKKBN Blusukan ke Timur! Gubernur NTT Siaga, Program KB Sasar Larantuka dan Solor
Dari Lebao ke Jakarta
Lahir pada 1 Maret 1926 di Lebao, Larantuka, Pater Luis Diaz menjalani pendidikan di sekolah rakyat dan standaardschool, lalu melanjutkan formasi imam di Seminari Santo Paulus Ledalero.
Ia ditahbiskan pada 28 Oktober 1952, dan sejak itu, seluruh hidupnya diabdikan untuk karya pastoral, terutama sebagai Pastor pertama Paroki Sanjuan, Lebao.
Imamatnya bukan hanya panggilan, melainkan perjalanan cinta yang panjang. Tiga tonggak perayaannya menjadi saksi ketekunan:
▪︎ 25 tahun (Perak) - 1978, Matraman
▪︎ 50 tahun (Emas) – 2002, Pademangan
▪︎ 60 tahun (Intan) – 2012, Pademangan
Baca Juga: Di Alor, 119 Warga Dijanjikan Kerja di Morewali, Ternyata Dijebak Sindikat Perdagangan Orang
Hingga akhir hayatnya di RS Sint Carolus, Jakarta, pada 2 November 2020, ia tetap menjadi imam yang setia, dalam doa, dalam pelayanan, dalam cinta yang hening.
Hidup dalam Doa, Hidup dalam Kenangan
Kini, setiap lilin yang menyala di Kapela Hati Amat Kudus Yesus Tabali bukan hanya nyala devosi, tapi juga pelita kenangan.
Doa-doa yang terlantun di sana membawa serta bisikan cinta dari seorang imam tua yang hatinya tak pernah meninggalkan umat.
Pater Luis Diaz mungkin telah pergi secara fisik, tetapi jejak langkahnya terpatri di tanah Tabali, di hati umat yang mencintainya.