Upaya konfirmasi lanjutan pada 1 Oktober kepada Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flotim, Avi Manggota Hallan, juga tak membuahkan hasil.
Hingga kini, belum ada informasi kapan pembangunan talud akan dikerjakan, meski lokasi itu telah disurvei dan datanya sudah berada di meja BPBD.
Sementara itu, abrasi terus memperparah keadaan.
Baca Juga: Opini : Menemukan Tuhan di Era Digital: Tantangan dan Peluang Generasi Z
Pantauan Reportasentt.com, sejumlah pohon di sepanjang pantai sudah tumbang satu per satu akibat tergerus ombak.
Di salah satu titik, ombak hanya berjarak beberapa meter dari rumah warga.
“Musim hujan sudah mulai. Kami khawatir kalau gelombang nanti masuk sampai rumah,” kata salah satu warga pesisir yang rumahnya berada di garis depan ancaman abrasi.
Baca Juga: Viral Penganiayaan di SPN NTT: Senior Ditahan, Tapi Hasil Medis Korban Mengejutkan
Janji Tinggal Janji
Inkonsistensi Pemda Flotim membuat warga merasa dibiarkan menghadapi situasi berbahaya tanpa kejelasan.
Alih-alih memastikan respons cepat, lembaga teknis terkesan abai meski resiko bagi keselamatan warga semakin nyata.
Di tengah kondisi alam yang tak menunggu keputusan birokrasi, ketidakpastian pemerintah soal talud Lamawalang kini menjadi cermin buruknya manajemen bencana di daerah itu, janji disampaikan, survei dilakukan, namun realisasi tak kunjung datang.
Baca Juga: Viral Penganiayaan di SPN NTT: Senior Ditahan, Tapi Hasil Medis Korban Mengejutkan
Warga hanya berharap gelombang tak lebih dulu meratakan rumah mereka sebelum pemerintah bertindak.