REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Nara Teater, kelompok teater asuhan Silvester Petara Hurit, kembali menghadirkan karya monumental bertajuk “Ibu Tanah”.
Dijadwalkan untuk dipentaskan pada tahun 2025, pertunjukan ini akan menjelajahi empat wilayah di Flores Timur: daratan Flores Timur, Solor, Adonara, dan Lembata.
Pentas ini lahir dari kajian mendalam terhadap trauma sejarah panjang perang saudara yang dipicu oleh politik adu domba kolonial Eropa, khususnya Belanda.
Baca Juga: Afro Farm II Helanlangowuyo Dorong Pemeliharaan Ayam KUB dengan Pola Ramah Lingkungan
Luka kolektif akibat konflik ini masih terasa hingga kini, mengendurnya budaya saling topang yang sebelumnya menjadi inti dari hubungan harmonis antara masyarakat pesisir dan pegunungan Lamaholot.
Kisah dalam “Ibu Tanah” membongkar narasi kolonial yang menjadikan mitos Paji- Demon sebagai alat adu domba.
Narasi ini berakar dari mitologi tua Lamaholot tentang asal-usul manusia yang mengisahkan perdamaian (baya/baja) setelah peperangan.
Kolonial membelokkan mitos tersebut, mengubahnya menjadi simbol perpecahan yang terus membiak hingga kini.
Melalui pentas ini, Nara Teater menghadirkan “Ibu Tanah” sebagai teks perlawanan sekaligus rekonstruksi sejarah dan kultural.
Ibu Tanah, yang dalam kosmologi Lamaholot dikenal sebagai Ina Tana Ekan, Ibu Agung yang merangkul dan mempersatukan, ditegaskan kembali sebagai simbol pemersatu.
Baca Juga: Akun Facebook Dibajak! Michael Hontong Datangi Polda Sulut
Proses kreatif “Ibu Tanah” melibatkan pengalaman langsung para aktor yang belajar dari kehidupan petani ladang, pelaut, tukang ojek, pedagang, penenun, hingga maestro sastra lisan.