daerah

'Ibu Tanah' : Nara Teater Bongkar Mitos Paji- Demon, Jejak Kolonial yang Memecah Rakyat Lamaholot

Senin, 13 Januari 2025 | 20:05 WIB
kelompok teater asuhan Silvester Petara Hurit, melakukan diskusi karya monumental bertajuk “Ibu Tanah”. (Foto/ Elen Labina)

Proses latihan dilakukan di alam terbuka, seperti ladang, pantai, dan bukit, yang memperkuat keterhubungan dengan Ibu Tanah.

Rin Wali, Ketua Nara Teater, menyebut karya ini sebagai puncak dari visi kolektif kelompoknya.

 Baca Juga: Misteri Mobil Dinas RI 36: Siapa Penggunanya? Para Menteri Membantah, Patwal Dihukum!

“Kami berkarya dan tumbuh dalam keterbatasan. Berproses dengan sabar selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapat dukungan dari program Indonesiana,” ungkapnya.

Pentas ini bertujuan membongkar narasi kolonial, mendidik masyarakat, memperkuat kohesi sosial, dan membangun budaya saling topang.

Seperti yang diungkapkan Jhon Dasilva, aktor senior Nara Teater, teater bagi mereka adalah ruang refleksi dan perjuangan nurani.

 Baca Juga: Ini Alasan Polres Ende Terapkan Sistem Buka Tutup di Lokasi Longsor KM 4 Jalan Raya Ende- Bajawa

“Teater hadir sedekat-dekatnya dengan persoalan hidup masyarakat. Seni adalah daya hidup, perjuangan nurani, dan corong kritisisme publik,” katanya.

Martin Kabelen, salah satu aktor, turut menambahkan bahwa semangat kolektif dan komitmen tinggi menjadi fondasi utama Nara Teater. Walau memiliki kesibukan mengajar di SMP Panca Marga Kolimasang, ia tetap mengikuti latihan dengan disiplin.

Pentas “Ibu Tanah” tidak hanya menjadi medium seni, tetapi juga sarana edukasi dan rekonsiliasi kultural, membawa harapan baru bagi masyarakat Lamaholot. (Elen Labina)

Halaman:

Tags

Terkini