REPORTASENTT.COM, ROMA- Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mendapat kesempatan langka untuk bertemu secara langsung dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada Minggu Paskah.
Pertemuan singkat tersebut berlangsung di tengah perbedaan pandangan keduanya terkait isu imigrasi.
Vance, yang masuk Katolik Roma pada 2019, disambut oleh Paus Fransiskus di Domus Santa Marta, kediaman resmi Paus di Vatikan.
Vance, yang masuk Katolik Roma pada 2019, disambut oleh Paus Fransiskus di Domus Santa Marta, kediaman resmi Paus di Vatikan.
Meski masih dalam masa pemulihan dari serangan pneumonia, Paus berusia 88 tahun itu menyambut hangat Vance dan memberikan tiga telur Paskah cokelat untuk anak-anak Vance, serta sebuah dasi dan rosario Vatikan.
"Saya tahu Anda tidak merasa sehat, tetapi senang melihat Anda dalam kesehatan yang lebih baik," ujar Vance kepada Paus.
"Saya tahu Anda tidak merasa sehat, tetapi senang melihat Anda dalam kesehatan yang lebih baik," ujar Vance kepada Paus.
"Terima kasih telah menemui saya," ungkap Paus.
Baca Juga: Bongkar Jaringan Ilegal AZKA.NET: Bisnis RT/RW Net Raup Puluhan Juta dari Fasilitas Negara
Kunjungan Vance di wilayah Vatikan berlangsung selama 17 menit.
Kunjungan Vance di wilayah Vatikan berlangsung selama 17 menit.
Kantor Vance membenarkan pertemuan tersebut, namun tidak memberikan detail lebih lanjut.
Sementara itu, pihak Vatikan menyatakan bahwa pertemuan itu bertujuan untuk bertukar ucapan Paskah.
Baca Juga: Dibalik Identitas Pers: Oknum Mengaku Wartawan Ditangkap, Polisi Bongkar Jaringan Pemerasan di Cianjur
Setelah pertemuan, Vance bersama keluarganya mengikuti misa Paskah di Basilika St Paul Outside the Walls dan mengunjungi makam Rasul Paulus yang diyakini berada di lokasi tersebut.
Pertemuan ini menarik perhatian karena keduanya memiliki pandangan yang sangat berbeda soal kebijakan imigrasi.
Setelah pertemuan, Vance bersama keluarganya mengikuti misa Paskah di Basilika St Paul Outside the Walls dan mengunjungi makam Rasul Paulus yang diyakini berada di lokasi tersebut.
Pertemuan ini menarik perhatian karena keduanya memiliki pandangan yang sangat berbeda soal kebijakan imigrasi.
Paus Fransiskus secara terbuka mengkritik kebijakan imigrasi pemerintahan Trump, termasuk rencana deportasi massal, yang menurutnya “merusak martabat pria dan wanita”.
Baca Juga: Diduga Sediakan Wanita Penghibur, Kafe di Bintan Digeledah Polisi, Tapi Ini yang Terjadi!
Dalam surat kepada para uskup AS pada Februari lalu, Paus bahkan menyindir klaim Vance bahwa doktrin Katolik mendukung kebijakan keras terhadap imigran.
Meski menyadari kritik Paus, Vance menyatakan tetap mempertahankan pandangannya.
Meski menyadari kritik Paus, Vance menyatakan tetap mempertahankan pandangannya.
Dalam kesempatan lain, ia menyebut dirinya sebagai "bayi Katolik" yang masih belajar memahami ajaran agama barunya.
Baca Juga: Polres Sikka Tangkap Pelaku Penganiayaan di Desa Geliting
Sehari sebelum bertemu Paus, Vance mengadakan pertemuan resmi dengan Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin dan Menteri Luar Negeri Uskup Agung Paul Gallagher.
Sehari sebelum bertemu Paus, Vance mengadakan pertemuan resmi dengan Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin dan Menteri Luar Negeri Uskup Agung Paul Gallagher.
Mereka membahas isu-isu global, termasuk imigrasi, konflik internasional, dan peran Gereja Katolik di Amerika Serikat.
Menurut pernyataan Vatikan, pertemuan tersebut merupakan ajang “pertukaran pendapat” dan menekankan pentingnya kolaborasi damai antara negara dan Gereja.
Menurut pernyataan Vatikan, pertemuan tersebut merupakan ajang “pertukaran pendapat” dan menekankan pentingnya kolaborasi damai antara negara dan Gereja.
Pernyataan tersebut juga menyinggung kontribusi Gereja dalam pelayanan sosial, khususnya bagi masyarakat rentan.
Referensi mengenai “kolaborasi damai” dipandang sebagai tanggapan halus atas tuduhan Vance yang menyatakan bahwa konferensi para uskup AS memanfaatkan program pemukiman imigran ilegal untuk mendapatkan dana federal, tuduhan yang telah dibantah oleh para kardinal AS.
Dalam pesan tradisional Urbi et Orbi yang dibacakan atas nama Paus pada Minggu Paskah, Fransiskus kembali menyerukan kerja sama global dalam membangun perdamaian dan membantu mereka yang membutuhkan.
Referensi mengenai “kolaborasi damai” dipandang sebagai tanggapan halus atas tuduhan Vance yang menyatakan bahwa konferensi para uskup AS memanfaatkan program pemukiman imigran ilegal untuk mendapatkan dana federal, tuduhan yang telah dibantah oleh para kardinal AS.
Dalam pesan tradisional Urbi et Orbi yang dibacakan atas nama Paus pada Minggu Paskah, Fransiskus kembali menyerukan kerja sama global dalam membangun perdamaian dan membantu mereka yang membutuhkan.
Ia menekankan pentingnya meninggalkan logika ketakutan dan memanfaatkan sumber daya untuk mengatasi kelaparan dan mendorong pembangunan.
“Ini adalah 'senjata' perdamaian: senjata yang membangun masa depan, bukan menabur benih kematian,” tegasnya.
“Ini adalah 'senjata' perdamaian: senjata yang membangun masa depan, bukan menabur benih kematian,” tegasnya.
Artikel Terkait
Polres Sikka Tangkap Pelaku Penganiayaan di Desa Geliting
Diduga Sediakan Wanita Penghibur, Kafe di Bintan Digeledah Polisi, Tapi Ini yang Terjadi!
Dibalik Identitas Pers: Oknum Mengaku Wartawan Ditangkap, Polisi Bongkar Jaringan Pemerasan di Cianjur
Bongkar Jaringan Ilegal AZKA.NET: Bisnis RT/RW Net Raup Puluhan Juta dari Fasilitas Negara
Aksi Licik di Parkiran RS Terbongkar: Spesialis Curanmor Dibekuk Saat Akan Beraksi Lagi