Suara Tanah Ai: Aksi Damai Mahasiswa dan Aktivis Memperjuangkan Hak Masyarakat Adat Nangahale

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Selasa, 18 Februari 2025 | 19:31 WIB
Para demonstran saat melakukan aksi. (Foto Polres Sikka)
Para demonstran saat melakukan aksi. (Foto Polres Sikka)

 

REPORTASENTT.COM SIKKA- Puluhan mahasiswa dan aktivis yang tergabung dalam Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Tanah Ai (HIPERMATA) serta Forum Gereja (Gerakan Jaga Tanah Masyarakat Adat) Sikka, pada Selasa (18/2/2025), menggelar aksi damai di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, sebagai bentuk protes terhadap penggusuran rumah warga di Nangahale, Kecamatan Talibura, yang terjadi pada 22 Januari 2025.

Aksi ini bertujuan untuk menuntut keadilan bagi masyarakat adat yang terdampak.

Aksi dimulai pada pukul 11.00 WITA di Lapangan Kota Baru, di mana massa berkumpul sebelum melakukan long march menuju berbagai titik strategis di Kota Maumere.

Baca Juga: Tragedi di Pantai Roda Lembor Selatan: Dua Hari Hilang, Petani Ditemukan Tak Bernyawa 500 Meter dari Lokasi

Rute aksi ini meliputi Jalan Kesehatan, Kampus UNIPA, Jalan Ahmad Yani, Polres Sikka, Jalan Don Juang, Jalan Anggrek, Jalan Eltari, Kantor ATR/BPN Sikka, hingga Kantor Bupati Sikka.

Para demonstran membawa berbagai alat peraga, termasuk pengeras suara, bendera Merah Putih, dan empat bendera Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai simbol solidaritas terhadap perjuangan masyarakat adat.

Mereka juga membentangkan poster bertuliskan pesan-pesan protes, seperti "Tanah Amin, Moret Main", "Masyarakat Adat Menggugat", dan "Pelanggaran HAM Berat, Komnas HAM Segera Turun".

 Baca Juga: Terungkap! Karyawan Swasta di Banyuwangi Kendalikan 63 Paket Sabu

Koordinator aksi dari Forum Gereja, Micelson Moa Popy dan Wilfridus Iko, serta Ketua Umum HIPERMATA, Silfanus S. Gobang, mengatakan demonstrasi ini bertujuan untuk mendesak pemerintah daerah agar bertanggung jawab atas penggusuran yang mereka nilai sebagai pelanggaran hak masyarakat adat.

Mereka juga menuntut agar pemerintah segera menyelesaikan konflik tanah di Nangahale secara adil dan transparan.

Saat tiba di Polres Sikka pukul 11.30 WITA, massa melakukan orasi singkat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kantor ATR/BPN Sikka.

 Baca Juga: Cristian Ronaldo ke Indonesia: Agenda di Kupang, Nginap di Bali dengan Juru Masak Pribadi!

Di lokasi tersebut, mereka kembali menyuarakan tuntutan agar kebijakan pertanahan di Kabupaten Sikka dijalankan dengan transparansi dan akuntabilitas.

Halaman:

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X