Dalam laporan itu, seorang peziarah bernama Maria Imelda Ndua mengaku dibentak oleh seorang polisi saat prosesi, meski identitas oknum tidak disebut.
Namun siapa sangka, yang merasa ‘tersenggol’ justru Alfons sendiri.
Alih-alih menempuh jalur klarifikasi yang elegan, Alfons memilih membuka “panggung” kemarahan di hadapan publik, mencoreng sakralnya prosesi Semana Santa, memalukan institusi, dan memukul mundur marwah aparat pengayom masyarakat.
Insiden ini sontak menjadi sorotan media yang meliput langsung peristiwa tersebut.
Rekan-rekan jurnalis dari berbagai platform mengecam keras tindakan arogan perwira Polres Flores Timur itu.
"Ini tidak hanya mempermalukan institusi, tapi juga menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers di Flores Timur," ungkap salah satu wartawan senior di lokasi.
Tak berselang lama, di Pos Terpadu, Wakapolres Flores Timur akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada Elton Nggiri, di hadapan sejumlah wartawan dan perwira lainnya.
Namun, permintaan maaf itu disampaikan tanpa kehadiran sang pelaku, Iptu Alfons Demon.
Baca Juga: Doa yang Terapung di Atas Gelombang, Lamalera Menjaga Janji di Semana Santa Larantuka
"Pak Elton, mewakili pimpinan, saya minta maaf atas perilaku anggota kami," ucap Teosasar lirih, sebuah permintaan maaf yang terasa berat mengingat momen sudah terlanjur rusak, dan luka di hati insan pers terlanjur menganga.
Yang lebih memilukan, insiden ini bukan kali pertama.
Sepanjang awal tahun 2025, sudah tiga kasus intimidasi menimpa jurnalis di Flores Timur.