REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Suasana di Kota Larantuka, Nusa Tenggara Timur, berubah muram pada Jumat malam, (18/4/2025).
Prosesi Jumat Agung diawali pada pukul 20.00 WITA, awan hitam menggantung rendah di langit, menutup gemerlap bintang, seolah ikut merunduk dalam duka.
Di tengah ribuan peziarah yang larut dalam doa, langkah-langkah pelan empat sosok berjubah putih memecah keheningan, ditengah rintihan hujan kota Reinha.
Baca Juga: Hujan Iringi Prosesi Jumat Agung di Larantuka, Ribuan Peziarah Khusyuk Meski Basah Kuyup
Mereka adalah Lakademu, empat orang terpilih yang memikul peti Tuan Ana, simbol kehadiran Yesus Kristus dalam tradisi Katolik Semana Santa di Larantuka.
Prosesi ini dikenal sebagai Sesta Vera, puncak perayaan Jumat Agung yang sudah berlangsung turun-temurun selama ratusan tahun.
Berjalan tanpa suara, wajah mereka tersembunyi di balik topi merah kerucut.
Tak ada identitas yang diumumkan, tak ada nama yang disebut.
Kerahasiaan Lakademu dijaga ketat oleh Confreria Reinha Rosari, sebuah persaudaraan Katolik yang menjadi penjaga warisan rohani ini.
Menjadi Lakademu bukan sekadar tugas fisik, melainkan perjalanan batin.
Artikel Terkait
Diguyur Hujan Lebat, Ribuan Peziarah Iringi Prosesi Laut Tuan Meninu di Larantuka
Aksi Maling Motor di Pacitan Berakhir Mengejutkan! Pelaku Sempat Nongkrong di Rumah Korban Sebelum Kabur!
Terbongkar! Jaringan Sabu Pasca Lebaran Digulung Polisi, 132 Gram Barang Bukti dan Lima Tersangka dari Tiga Lokasi
Cerita Perjalanan Peledang Lamalera: Arungi Lautan Menuju Larantuka, Mengawal Sampan Arca Yesus Tersalib
Hujan Iringi Prosesi Jumat Agung di Larantuka, Ribuan Peziarah Khusyuk Meski Basah Kuyup