"Bapak Sindi sambil ia mengancam mengambil parang. Saya sangat shok dan bingung dengan keadaan sekejap itu. Dan saat itu saya melihat Mama Sindi juga ada di dalam kamar dengan kondisi berbusana lengkap, dan tiba tiba dia lari ke luar," kata Agus.
Dijelaskannya, masih dalam keadaan shok, Ia berusaha menenangkan Bapak Sindi. Saat itu Ia masih dalam keadaan berpakaian lengkap, ditambah kain selimut dan bangun mendekati Bapak Sindi.
Karena teriakan keras Bapak Sindi berupa makian-makian dan ancaman untuk membunuh, sehingga mengakhibatkan semua orang dalam rumah ikut bangun dan ikut panik.
"Supaya tidak terjadi keributan besar, saya dan semua anggota pastoran segera meninggalkan rumah itu dan balik ke pastoran," ungkapnya.
Setelah keributan tersebut, Romo bersama karyawannya pun pulang ke pastoran (tanpa enu Itin/anak dari adiknya Bapak Sindi).
Dalam perjalan pulang, persisnya di kampung Munde, Romo Agus tiba-tiba dihubungi Mama Sindi (dia dalam keadaan menangis dan ketakutan) untuk minta bantuan dijemput.
"Atas permintaan Mama Sindi dan demi keselamatannya, saya bersama anggota pastoran, kami kembali menjemput dia di pertengahan jalan (agak jauh dari rumahnya). Lalu kami bersama-sama dalam satu mobil menuju pastoran," kata dia.
Baca Juga: Dituduh Mata- mata, Jurnalis Asal Amerika Ditahan di Rusia, Joe Biden Angkat Suara
Demi keselamatan dirinya dan karyawan, maka tepat pukul 08.00 WITA (Rabu, 24 April 2024), Ia, Kristo dan Safe meninggalkan pastoran dan ke luar dari kota Borong.
Sedangkan Mama Sindi kata Agus, masih di seputaran kota Borong.
"Demikian klarifikasi dan kronologis peristiwa yang menimpah saya. Dengan tulus hati saya meminta maaf kepada Yang Mulia Bapak Uskup Ruteng," katanya.
Iq juga meminta maaf kepada Vikep Borong dan Para Imam, keluarga-keluargany, umat paroki St. Yosef Kisol, serta seluruh umat yang terganggu karena peristiwa ini.