Gereja Katolik di PNG Menjadi Benteng Terakhir dalam Perlawanan Terhadap Kekerasan Akibat Tuduhan Sihir

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Jumat, 6 September 2024 | 22:56 WIB
Mengikuti Jalan (film dokumenter Gereja Anglikan Papua Nugini) (Foto tangkapan layar Youtube  Film yang Belum Dieksplorasi )
Mengikuti Jalan (film dokumenter Gereja Anglikan Papua Nugini) (Foto tangkapan layar Youtube Film yang Belum Dieksplorasi )
 
REPORTASENTT.COM- Direktur Nasional Caritas Papua Nugini, menyampaikan kekerasan terkait tuduhan Sihir merupakan masalah besar di Papua Nugini, yang berdampak pada perempuan rentan, khususnya janda, ibu tunggal, kaum muda, dan orang yang sangat tua.

Tito menjelaskan, banyak pelaku yang terpengaruh alkohol atau ganja (narkoba yang tumbuh alami di dataran tinggi Papua), dan menyasar perempuan yang “tidak punya sistem pendukung, tidak punya suami, tidak punya siapa pun yang membela mereka.”

Selain itu, katanya, serangan ini bermula dari rasa frustrasi para pelaku terkait pengangguran dan tidak adanya layanan penting seperti sekolah dan bangunan pemerintahan di komunitas mereka.
 
Baca Juga: Soroti Pengadaan Mobil Baru Pejabat Flores Timur, Ini Kata Pakar Pakar Hukum Tata Negara Undana Kupang

Tito mencatat bahwa Gereja Katolik di PNG, khususnya di Keuskupan Wabag, berada di garis depan dalam memerangi SARV.
 
Di sana, Uskup Justin Ain Soongie, Uskup Pembantu Keuskupan, mengorganisasikan "gerakan besar" kaum muda untuk melawan bentuk kekerasan terhadap perempuan ini.  

“Dia melatih mereka, dan mengirim pemuda untuk memberikan ceramah di masyarakat," ungkapnya.
 
 
Pendekatan ini kata Tito cukup berhasil, seiring berjalannya waktu.
 
"Kami melihat adanya penurunan laporan tentang SARV dan kami berharap hal ini akan terus berlanjut," ujarnya.

Kerendahan hati Paus

Tito juga menekankan bahwa biaya hidup merupakan masalah nyata di PNG.
 
“Negara ini sedang mengalami inflasi saat ini, sehingga biaya barang dan jasa pun naik," kata dia.

Memperhatikan akomodasi dan sarana transportasi sederhana yang dipilih Paus selama kunjungannya, Tito menambahkan bahwa banyak orang yang sedang berjuang saat ini, dan Ia sangat tersanjung bahwa Bapa Suci menyadari hal itu.
 
 
Mavis Tito, Direktur Nasional Caritas Papua Nugini, berbicara kepada Vatican News tentang pekerjaan organisasi tersebut di negara tersebut, khususnya pendiriannya terhadap kekerasan berdasarkan tuduhan sihir.

Paus Fransiskus baru saja tiba di Papua Nugini, negara kepulauan Pasifik yang paling padat penduduknya.

Di Port Moresby, ibu kota negara tersebut, Claudia Torres berbicara dengan Mavis Tito, Direktur Nasional Caritas negara tersebut.
 
Baca Juga: Tim Patroli Polisi Amankan 2 Pemuda di Pemud Praya Timur Kedapatan Bawa Sabu

Hampir semua orang Papua beragama Kristen, tetapi hanya sekitar 30 persen yang beragama Katolik.
 
Ibu Tito menjelaskan bahwa Caritas PNG bekerja sama dengan denominasi agama lain, menjalankan program Kemitraan Gereja, serta program antaragama dengan komunitas Muslim.

Kekerasan terkait tuduhan sihir (SARV)
 

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X