REPORTASENTT.COM, VATICAN CITY- Setelah sembilan hari masa berkabung atau Novendiales usai pemakaman Paus Fransiskus, perhatian dunia kini beralih ke proses pemilihan pemimpin baru Gereja Katolik.
Konklaf, proses pemilihan Paus yang tertutup, segera digelar di Kapel Sistina, Vatikan.
Di ruang ikonik inilah, para kardinal pemilih akan berkumpul untuk menentukan penerus Paus Fransiskus.
Baca Juga: Direktur Pemberitaan Jak TV Diduga Terima Rp487 Juta Tanpa Kontrak, Terseret Kasus Perintangan Penyidikan
Sesuai aturan yang berlaku sejak 22 Januari 2025, ada 138 kardinal berhak memilih dari total 252 kardinal di seluruh dunia.
Hanya kardinal di bawah usia 80 tahun yang diperbolehkan memberikan suara.
Pemungutan suara akan dilakukan dalam empat putaran per hari, hingga seorang kandidat berhasil meraih dua pertiga suara mayoritas.
Baca Juga: Perkuat Transformasi, Pemkab Flotim Siapkan RKPD 2025, Fokus Tingkatkan Produktivitas
Secara historis, proses ini bisa berlangsung dari hitungan hari hingga berminggu-minggu, bahkan pernah hingga bertahun-tahun pada masa lalu.
Sejumlah nama mencuat dalam bursa kandidat pengganti Paus Fransiskus, yang sepanjang masa kepemimpinannya dikenal membawa Gereja ke arah yang lebih terbuka, sosial, dan inklusif.
Berikut beberapa nama yang disebut-sebut berpeluang besar:
Baca Juga: Presiden Palestina: Dunia Kehilangan Suara Moral, Paus Fransiskus Simbol Toleransi dan Persaudaraan
1. Kardinal Peter Erdo
Uskup agung Budapest yang berusia 72 tahun ini dikenal sebagai figur berpengaruh di kalangan gereja Eropa. Dua kali terpilih memimpin Dewan Konferensi Episkopal Eropa, Erdo dinilai memiliki jaringan kuat, termasuk di antara para uskup Afrika.
2. Kardinal Reinhard Marx
Uskup asal Jerman berusia 71 tahun ini mendukung reformasi dalam gereja, terutama lewat proses "jalur sinode" di Jerman yang membahas isu sensitif seperti selibat, peran perempuan, dan orientasi seksual.
Meski mengundurkan diri pada 2021 terkait kasus pelecehan di gereja, Paus Fransiskus saat itu memintanya untuk tetap melayani.
Baca Juga: Flores, Sepak Bola, dan Vila: Jejak Paus Fransiskus di Buenos Aires