Memasuki era modern, muncul dinamika antara upaya menjaga tradisi dan kebutuhan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Uskup menilai keduanya harus berjalan seimbang.
“Tanpa tradisi kita kehilangan arah, tetapi jika hanya bertahan di tradisi, kita menjadi seperti museum yang beku,” katanya.
Ia melihat Semana Santa tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Baca Juga: Komsos Keuskupan Larantuka Ingatkan Umat Tak Jadikan Semana Santa Ajang Konten
Karena itu, diperlukan pengembangan infrastruktur serta pemahaman bersama mengenai makna perayaan tersebut.
Semana Santa sendiri merupakan rangkaian delapan hari, dimulai dari Minggu Palma hingga Minggu Paskah.
Seluruh rangkaian itu dinilai perlu diisi kegiatan rohani dan budaya secara utuh, sehingga tidak berhenti pada Jumat Agung saja.
Baca Juga: Video Viral Polisi vs Warga di Kupang: Dugaan Pelayanan Tak Profesional, Propam Periksa Anggota Polsek Maulafa
Dalam konteks kehidupan sosial, Larantuka memperlihatkan harmoni antarumat beragama yang berlangsung alami.
Aktivitas ibadah Katolik dan Muslim berjalan berdampingan tanpa gangguan.
“Kami hidup berdampingan secara wajar. Ini bukan program, melainkan keseharian,” kata Monteiro.
Baca Juga: Gara- gara Rumput, Panen Padi Berujung Adu Jotos, Polisi Turun Tangan Jadi Penengah
Ia menambahkan, identitas masing-masing kelompok justru menjadi dasar dialog dan kebersamaan.
Larantuka, dalam pandangan antropologis, berkembang sebagai ruang pertemuan berbagai latar belakang, sehingga membentuk karakter masyarakat yang terbuka.
Artikel Terkait
Di Balik Penghargaan Polda NTT, Jejak Aksi Heroik hingga Pesan Keras Soal Integritas Anggota
Kembali Menemukan Jati Diri: Ziarah Rohani Angelius Wake Kako di Kota Larantuka
Kominfo Jamin Internet Lancar Saat Semana Santa, Operator Perkuat Jaringan di Titik Rawan
Paskah dan Persaudaraan: MUI Flores Timur Ajak Rawat Teduhnya Kebersamaan
Petugas DLH Siaga Penuh, Pastikan Larantuka Bersih Saat Puncak Semana Santa