Presiden Jokowi dan Mantan Perdana Menteri Inggris Bahas Sejumlah Hal di Istana Merdeka

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Minggu, 21 April 2024 | 09:32 WIB
Presiden Jokowi saat menerima mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair beserta delegasi, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/04/2024). (Foto: BPMI Setpre/Vico)
Presiden Jokowi saat menerima mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair beserta delegasi, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/04/2024). (Foto: BPMI Setpre/Vico)


REPORTASENTT.COM, JAKARTA-  Serangkaian inisiatif strategis untuk memajukan sektor energi terbarukan dan transformasi digital di Indonesia, dibahas dalam pertemuan Presiden Joko Widodo dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (18/04/2024).
 
Dalam pertemuan tersebut juga Presiden didampingi Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas.
 
Pertemuan bersama Tony Blair itu kata Menteri Investasi, menghasilkan beberapa kesepakatan penting, termasuk rencana pembangunan fasilitas solar panel di Ibu Kota Nusantara (IKN), yang akan dikerjakan bersama dengan Persatuan Emirat Arab.
 
 
“Kami sedang menyusun detail rencana pembangunan ini,” ujar Menteri Investasi.
 
Ia pun menambahkan bahwa inisiatif ini akan difasilitasi oleh Tony Blair dan merupakan bagian dari kerja sama lebih luas di bidang energi baru terbarukan dan logistik.

Selain itu, pembahasan juga mencakup rencana pemanfaatan carbon storage di Indonesia, yang diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan negara baru.
 
 
“Kami berbicara tentang bagaimana carbon storage yang sudah kita putuskan kemarin bahwa 70 (persen) dalam negeri, 30 (persen) luar negeri,” ucap Bahlil.

Di sisi transformasi digital, Menteri PANRB Abdullah Azwar Annas mengungkapkan bahwa Indonesia tengah berupaya keras untuk mempercepat transformasi digital di sektor birokrasi. Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan Tony Blair Institute serta melakukan studi ke negara-negara yang telah maju dalam transformasi digital seperti Inggris dan Estonia.
 
“Sekarang ini begitu banyak aplikasi, ada 27 ribu aplikasi dan setiap inovasi selama ini membuat aplikasi. Jadi yang terjadi bukan memudahkan rakyat untuk mendapatkan layanan tapi mempersulit rakyat,” ujar Menteri PANRB.
 
Baca Juga: Ini Alasan DPR Amerika Serikat Ingin Menutup Platform media sosial TikTok   

“Begitu kami diminta Bapak Presiden untuk mengoordinasi transformasi digital, Tony Blair ke kantor Kemenpan RB, beliau meyakinkan bahwa tidak ada cara yang lebih cepat untuk melipatgandakan pencapaian negara dan birokrasi yang efisien kecuali program digitalisasi,” jelasnya.

MenPAN RB juga mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi telah memberikan arahan khusus untuk mengintegrasikan layanan digital melalui portal nasional. Hal tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai layanan pemerintah.

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X