Kemenhub Perintahkan Pemantauan Bandara di Sekitar Gunung Lewotobi Pasca- Erupsi

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Jumat, 8 November 2024 | 10:22 WIB
Bandara Gewayantana, Larantuka, Flores Timur. (Foto Rizal Ahmad)
Bandara Gewayantana, Larantuka, Flores Timur. (Foto Rizal Ahmad)

REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memerintahkan bandara-bandara di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk melakukan pemantauan secara berkala terkait sebaran abu vulkanik.

Keputusan ini diambil menyusul erupsi gunung tersebut yang dimulai pada 3 November 2024, dengan status awal Level III/Siaga yang kemudian meningkat menjadi Level IV (Awas). Peningkatan status ini berpotensi menyebabkan penutupan sementara untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas vulkanik di Gunung Lewotobi masih tinggi, dengan kode warna merah untuk abu vulkanik yang terpantau hingga ketinggian FL400.
 
Baca Juga: BNPB Pastikan Kenyamanan Pengungsi Erupsi Gunung Lewotobi, Lukmansyah: Belajar dari Kasus Semeru  

AirNav Indonesia telah mengeluarkan ASHTAM VAWR0350, VAWR0355, dan VAWR0357 yang memperingatkan penyebaran abu vulkanik di wilayah udara sekitar Bandara Fransiskus Xaverius Seda, serta bandara-bandara terdekat lainnya seperti Bandara Soa, Bandara Haji Hasan Aroeboesman, Bandara Frans Sales Lega, Bandara Komodo, Bandara Gewayantana, Bandara Wunopito, dan Bandara Kabir.

"Sejauh ini, beberapa penerbangan telah dibatalkan, termasuk rute-rute Wings Air yang menghubungkan Maumere dengan Kupang dan Makassar akibat sebaran abu vulkanik untuk menjaga keselamatan penerbangan. Kami akan terus berkoordinasi lebih lanjut dengan otoritas dan bandara terkait," ungkap Plt. Dirjen Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, pada Selasa (5/11/2024), dilansir infopublik.

Lukman juga telah memerintahkan Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Bali dan Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki untuk melakukan pengamatan secara berkala dan berkoordinasi secara intensif dengan AirNav Indonesia serta pemangku kepentingan lainnya.
 
Baca Juga: Jaga Stabilitas Politik dan Keamanan: Menko Polhukam  Serukan Kepala Daerah untuk Dukung Program Prioritas Presiden dan Wakil Presiden

"Kami berkomitmen menjaga keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan dengan terus berkoordinasi agar langkah-langkah sesuai prosedur dapat dilakukan dengan optimal," ujarnya.

Sebagai langkah mitigasi dampak penutupan ini, Lukman mengimbau maskapai penerbangan untuk memberikan kompensasi kepada penumpang yang terdampak, seperti pengembalian dana penuh (full refund), penjadwalan ulang (reschedule), atau reroute ke bandara terdekat jika tersedia.

Dalam situasi force majeure itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara berpedoman pada Surat Edaran SE No. 15 tahun 2019 dan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. KP 153 tahun 2019 tentang Tata Cara Collaborative Decision Making (CDM) dalam penanganan dampak abu vulkanik.
 
Baca Juga: Beberapa Gunung Api Alami Peningkatan Aktivitas Vulkanik, Badan Geologi Minta Masyarakat Tetap Waspada  

Hasil pengujian hingga pukul 16.00 WITA kemarin menunjukkan seluruh bandara negatif dari dampak abu, kecuali Bandara Komodo Labuan Bajo yang menunjukkan aktivitas debu meskipun tipis, sehingga bandara tersebut ditutup melalui penerbitan NOTAM Nomor A3479/24.
 
"Kami berharap situasi segera membaik agar aktivitas penerbangan dan operasional bandara kembali normal," ucap Lukman.

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X