nasional

Teroris Jamaah Islamiyah Poso Ditangkap Densus 88

Sabtu, 20 April 2024 | 10:33 WIB
Densus 88 Antiteror Polri saat melakukan penangkapan terhadap 8 orang teroris di Poso. (Foto Facebook)
 
REPORTASENTT.COM, JAKARTA-  Delapan orang teroris Jamaah Islamiyah (JI) di Poso, Sulawesi Tengah, akhirnya berhasil ditangkap oleh Densus 88 Antiteror Polri.
 
Penangkapan tersebut dilakukan pada, Selasa (16/4/2024) dan Kamis (18/4).
 
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko saat konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (19/4) menyampaikan, Tim Densus 88 Polri berhasil mengamankan delapan orang Teroris.
 
Baca Juga: Petasan Meledak, Sebuah Rumah di Desa Sembilangan Jawa Timur  Hancur, Tiga Orang Terluka
 
"Mereka ini adalah anggota kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang secara struktur diketahui menjabat di beberapa bidang,” ujar 
Karopenmas.

Selain itu mereka mengikuti pelatihan fisik dan mengikuti pelatihan paramiliter di Poso.

“Bidang yang diikuti teroris, seperti doktrin atau dakwah, kemudian bendahara keuangan, rekrutmen dan lembaga pendidikan,” katanya.
 
Baca Juga: Kebakaran di Mampang Telah Dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati, Tujuh Korban Meninggal Dunia
 
Inisial  kedelapan orang teroris itu adalah  G alias AJ, BS, SK, A, MWBS alias AZ, DK, H, dan RF.
 
Jamaah Islamiyah (JI)
 
Dilansir melalui laman resmi PBB, JI didirikan di Malaysia pada tanggal 1 Januari 1993 oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir (QDi.217), Jemaah Islamiyah (JI) berkembang dari gerakan militan Indonesia yang telah lama berdiri, Darul Islam, menjadi sebuah organisasi yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda ( QDe.004) dan sangat dipengaruhi oleh ideologi dan metodologi Usama bin Laden (almarhum).
 
Ancaman yang ditimbulkan oleh JI diperparah dengan perkembangan jaringannya yang tersebar di beberapa negara di Asia Tenggara. Tujuan utama JI adalah pembentukan negara berdasarkan ideologi ekstremis yang tersebar di sebagian besar Asia Tenggara.

Meskipun JI tetap merupakan organisasi independen yang mengambil keputusan operasionalnya sendiri, jaringan aktif para anggota senior JI telah membangun hubungan dengan kelompok teroris lainnya, baik lokal maupun internasional.
 
Baca Juga: Jasad Pasutri Korban Banjir Lahar Semeru Berhasil Dievakuasi Polres dan Warga Lumajang
 
JI mempunyai ideologi yang sama dengan Al-Qaeda dan banyak anggota kedua organisasi tersebut mempunyai pengalaman yang sama dalam pelatihan atau pertempuran di Pakistan dan Afghanistan pada akhir tahun 1980an dan awal tahun 1990an.

Tokoh penting yang menghubungkan JI dan Al-Qaeda adalah Ketua Operasional JI, Nurjaman Riduan Isamuddin (QDi.087), alias Hambali, yang juga anggota Al-Qaeda.
 
Hambali bertempur di Afghanistan pada pertengahan tahun 1980an dan bertanggung jawab atas pembentukan jaringan sel militan di seluruh Asia Tenggara pada tahun 1990an.
 
Baca Juga: Seorang Tukang Pijat Asal TTS Ditemukan Meninggal Dunia di Pasir Panjang kota Kupang
 
Dia adalah teman dekat Ramzi Yousef, yang saat ini dipenjara di Amerika Serikat karena keterlibatannya dalam serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 26 Februari 1993.
 
Hambali juga dekat dengan individu, termasuk Ramzi Yousef, yang bertanggung jawab merencanakan a kampanye pengeboman terkoordinasi terhadap 12 penerbangan komersial Amerika Serikat dari Asia ke Pantai Barat Amerika Serikat pada bulan Januari 1995.

Hambali berperan penting dalam mengatur agar anggota JI menerima pelatihan di kamp-kamp Al-Qaeda di Afghanistan, dan sejumlah anggota JI yang ditahan di Singapura mengaku mengikuti kamp-kamp tersebut.
 
Baca Juga: Krisis Timur Tengah, Para Pemimpin Dunia Desak Israel dan Iran  Tak Meningkatkan Ketegangan
 
Hambali juga dikaitkan dengan serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat. Dia memfasilitasi kunjungan beberapa agen Al-Qaeda ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada bulan Januari 2000, di antaranya Khalid al-Midhar dan Nawaf al-Hazmi terlibat dalam pembajakan dan jatuhnya American Airlines Penerbangan 77 ke Pentagon pada 11 September 2001.

Tokoh penting JI lainnya yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda adalah Fathur Rohman al-Ghozhi (almarhum). Al-Ghozhi menghadiri kamp pelatihan Al-Qaeda di Afghanistan antara tahun 1993 dan 1994 sebelum mendirikan sel JI di Filipina sekitar tahun 1996.

Selain hubungan pribadi antara JI dan Al-Qaeda, terdapat hubungan lain antara kedua kelompok tersebut.
 
Baca Juga: Masuk Desa Wisata, Kampung Adat Lamahelan Sulit Diakses Internet, Ini Kata Kadis Kominfo Flotim
 
Rekaman video pengawasan JI, termasuk rekaman potensi sasaran pengeboman di Singapura, ditemukan pada tahun 2001 dari reruntuhan rumah komandan militer Al-Qaeda, Mohamed Atef, yang terdaftar sebagai Sobhi Abdel Aziz Mohamed el Gohary Abu Sinna (almarhum), di Afghanistan .
 
Seorang anggota Al-Qaeda merupakan agen kunci dalam rencana pengeboman yang diungkap JI di Singapura pada bulan Desember 2001 dan telah memberikan bantuan operasional dan pendanaan kepada JI.
 
Selain mengirimkan anggota JI ke Afganistan untuk pelatihan, sel JI Malaysia juga bertanggung jawab mendirikan beberapa front company yang dapat digunakan untuk menyalurkan dana Al-Qaeda dan pengadaan senjata serta bahan pembuatan bom.

Tags

Terkini