REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Tradisi Rabu Trewa kembali mewarnai suasana religius di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (16/4/2025) malam.
Tepat pukul 19.39 WITA, puluhan anak-anak dan pemuda tampak berlarian di jalanan sambil menyeret potongan seng, menghasilkan bunyi- bunyian khas yang menggema di sepanjang ruas jalan kota.
Tradisi ini menjadi tanda dimulainya masa Tri Hari Suci, sekaligus mengenang kisah sengsara Yesus Kristus.
Baca Juga: Ciuman di Tengah Hening, Tangis di Ujung Doa- Tradisi 'Cium Tuan' di Wure, Adonara
Rabu Trewa merupakan salah satu ritual adat- religius yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh umat Katolik di Keuskupan Larantuka.
Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian Semana Santa atau Pekan Suci, yang setiap tahun menarik perhatian umat dari berbagai daerah, bahkan luar Flores.
Dalam tradisi ini, Trewa berarti "bunyi-bunyian" atau "kegaduhan."
Bunyi tersebut sengaja diciptakan sebagai simbol berkabung atas dimulainya masa sengsara Kristus.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi penanda bagi umat untuk mulai membatasi aktivitas yang bersifat gembira dalam menyongsong Tri Hari Suci.
Barisan anak-anak dan pemuda menyusuri jalan- jalan pemukiman sambil tetap menyeret seng, menciptakan bunyi berirama yang menandai nuansa batin dalam memasuki masa suci tersebut.
Artikel Terkait
Polres Ende Siap Amankan Paskah, Operasi Semana Santa Turangga 2025 Resmi Digelar!
Ketua PN Jaksel Terseret Suap Rp60 Miliar, KY Turun Tangan
Ribuan Peziarah Padati Kapel Tuhan Berdiri di Wure Jelang Prosesi Jumat Agung
Angkutan Lebaran Rampung, PELNI Sukses Selenggarakan Program Tiket Gratis Kemenhub dan Mudik Gratis BUMN
Ciuman di Tengah Hening, Tangis di Ujung Doa- Tradisi 'Cium Tuan' di Wure, Adonara