BMKG Peringatkan Potensi Bibit Siklon Tropis 97S, Cuaca Ekstrem Ancam Wilayah Timur Indonesia

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Selasa, 2 Desember 2025 | 08:08 WIB
Foto citra satelit Bibit Siklon Tropis 97S.
Foto citra satelit Bibit Siklon Tropis 97S.




 

REPORTASENTT.COM, JAKARTA- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait peningkatan aktivitas Bibit Siklon Tropis 97S yang saat ini terpantau di perairan Laut Timor, tepatnya di selatan Kepulauan Babar–Tanimbar.
 
 
Sistem ini masuk kategori peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan.


Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan masyarakat di wilayah timur Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan mengingat bibit siklon tersebut dapat menimbulkan dampak cuaca ekstrem, mulai dari hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi.
 
 


“BMKG hadir memantau perkembangan 97S ini setiap saat. Masyarakat tidak perlu cemas, kuncinya adalah tetap waspada dan terus memantau informasi resmi,” ujar Faisal dalam keterangan tertulis, Selasa (18/11).
 
 
“Mari kita jaga keselamatan diri dan keluarga dengan mengikuti arahan petugas di lapangan serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi," tambahnya.


Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan, berdasarkan pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, pusat sirkulasi 97S berada di sekitar 10.0°LS – 130.6°BT.
 
 
 
Struktur sistem semakin tertutup dengan perluasan area berawan yang mencakup lebih dari setengah lingkaran pusat pertumbuhan siklon.


“Penguatan status 97S didukung oleh kondisi atmosfer dan laut yang sangat kondusif, termasuk suhu muka laut hangat (28–30°C) serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif dan meningkatkan pembentukan awan hujan,” kata Guswanto.


BMKG memprediksi bahwa bibit ini dapat tumbuh menjadi siklon tropis pada Kamis dini hari, dengan potensi berada di sekitar 9.1°LS – 132.5°BT dan membawa intensitas angin hingga 50 knot. Dalam 24–48 jam, sistem ini diperkirakan bergerak ke timur–timur laut, sebelum berbelok menuju tenggara dalam 72 jam berikutnya.
 



Dalam rilis resmi 18 November 2025, BMKG menyebutkan adanya dampak langsung maupun tidak langsung terhadap cuaca di wilayah Indonesia Timur.

Potensi hujan:

  • Maluku: hujan lebat–sangat lebat disertai angin kencang.
  • Nusa Tenggara Timur (NTT): hujan intensitas sedang–lebat.

 

Potensi gelombang tinggi:

  • Laut Arafura barat–tengah: 2,5–4 meter
  • Samudra Hindia selatan NTT, Perairan selatan NTT, Laut Sawu, Laut Banda, Perairan Leti–Tanimbar: 1,25–2,5 meter
  • Kondisi ini dapat mengganggu pelayaran, aktivitas nelayan, hingga layanan transportasi penyeberangan.

 

Baca Juga: Wakapolri Sidak SPKT Flores Timur: Standar Layanan 110 Diangkat ke Level Baru

 

Pemda Diminta Siaga Banjir, Longsor, dan Gangguan Transportasi Laut

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani meminta pemerintah daerah serta instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak lanjutan, seperti genangan, banjir pesisir, longsor, kerusakan infrastruktur, dan terganggunya jalur darat maupun laut.



“BMKG melalui TCWC Jakarta terus melakukan pemantauan intensif 24 jam penuh terhadap pergerakan sistem ini. Kami menekankan pentingnya mengakses informasi resmi melalui kanal BMKG,” ujar Andri.



BMKG juga mengimbau nelayan dan kapal berukuran kecil menunda keberangkatan apabila harus melintasi wilayah perairan yang berpotensi dilanda gelombang tinggi.

 

Baca Juga: Drama 10 Gol! Bajak Laut Tundukkan PS Malaka 6-4 dalam Thriller 120 Menit Liga 4 ETMC XXXIV 2025




NTT Masuk Radar Pemantauan, Warga Diminta Waspada


Pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026, BMKG mencatat meningkatnya peluang pembentukan bibit siklon tropis di perairan selatan Indonesia.
 
 
Wilayah pesisir dan kepulauan seperti NTT, NTB, Bali, Maluku, dan Papua bagian selatan menjadi area yang masuk radar pengawasan.


Untuk masyarakat di NTT,  wilayah yang kerap terdampak hujan lebat, longsor di kawasan perbukitan, serta gelombang tinggi di pesisir, BMKG mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama pada puncak musim hujan.

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X