Baca Juga: Jejak Pelaku Ledakan SMAN 72: Polisi Temukan Senjata Mainan dan Tulisan Mencurigakan
Gelas tersebut diisi dengan satu liter Pertalite dan Solar, kemudian hasilnya diukur secara cermat.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa penyusutan takaran masih berada dalam batas toleransi, yakni sekitar 0,5 milimeter, yang berarti tidak ditemukan pelanggaran pada aspek ketepatan tera.
Selain itu, tim juga melakukan dua metode uji kualitas BBM.
Baca Juga: Tren Positif di Manggarai Timur: Angka Kematian Ibu Menurun Drastis
Metode pertama menggunakan Hidrometer Gasoline untuk mengukur kadar bahan bakar dan Hidrometer Water untuk mendeteksi kemungkinan adanya campuran air.
Hasil pengukuran menunjukkan kadar Pertalite dan Solar berada pada kisaran 0,700–0,750 mm, yang dinyatakan masih dalam standar normal.
Metode kedua menggunakan pasta air berwarna kuning yang dioleskan pada ujung tiang ukur dan dimasukkan ke tangki penyimpanan BBM.
Pasta tersebut tidak mengalami perubahan warna, indikasi bahwa tidak ada campuran air di dalam tangki. Bila terdapat air, pasta akan berubah menjadi merah.
Nilai pengukuran metode ini juga menunjukkan hasil aman, berkisar antara 0,800–0,850.
Kombes Hans menjelaskan, pengawasan yang dilakukan merupakan bagian dari kontrol rutin dan upaya pencegahan kecurangan yang dapat merugikan masyarakat.