Tren Positif di Manggarai Timur: Angka Kematian Ibu Menurun Drastis

Photo Author
Natanael Kwintalis Helan, Reportase NTT
- Jumat, 7 November 2025 | 20:47 WIB
Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas/ backround foto ist.
Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas/ backround foto ist.
 


REPORTASENTT.COM, BORONG-  Angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, tahun 2025 mengalami penurunan signifikan.

 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, tercatat hanya empat kasus kematian ibu sepanjang tahun ini, turun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.



Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, mengatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi melalui pembenahan lintas sektor, baik di bidang kesehatan maupun sosial.

 

Baca Juga: Manggarai Timur Bidik Nol Kematian Ibu dan Bayi, Ini Langkah Bupati Agas Andreas

 



“Selama lima tahun terakhir ini, pemerintah Kabupaten Manggarai Timur terus melakukan pembenahan lintas sektor sehingga angka kematian ibu dan bayi terus menurun,” kata Agas saat kegiatan Desiminasi Hasil Pengkajian Kasus Kematian Ibu dan Bayi Tahun 2025 di Cafe Anera Borong, Jumat (7/11/2025).

Data Dinas Kesehatan menunjukkan tren penurunan angka kematian ibu dan bayi sejak 2021.
Berikut data AKI dan AKB dalam lima tahun terakhir:

 

  • 2021: AKI 11 kasus, AKB 41 kasus
  • 2022: AKI 21 kasus, AKB 36 kasus
  • 2023: AKI 11 kasus, AKB 49 kasus
  • 2024: AKI 10 kasus, AKB 56 kasus
  • 2025: AKI 4 kasus, AKB 53 kasus

 


Meski angka kematian ibu turun tajam, angka kematian bayi (AKB) masih tergolong tinggi, yakni 53 kasus sepanjang 2025.


Masih tingginya angka kematian bayi dan beberapa kasus kematian ibu jelasnya, dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya.
 
 
Salah satunya adalah kepercayaan terhadap dukun beranak yang masih kuat di sebagian masyarakat.
 
 
 


Tercatat, dari total 3.831 persalinan sepanjang 2025, sekitar 4 persen ditangani oleh dukun. Dari 53 kasus kematian bayi, 25 di antaranya terjadi pada persalinan yang ditolong oleh dukun.


Selain itu, budaya patriarki juga berperan dalam lambatnya proses rujukan medis.
 

Keputusan untuk merujuk ibu hamil dengan komplikasi sering kali harus melalui keluarga besar, yang menyebabkan keterlambatan penanganan di fasilitas kesehatan.
 
 


Akses dan Fasilitas Kesehatan Masih Terbatas

Masalah infrastruktur juga menjadi kendala.
 
Beberapa wilayah seperti Lalang, Wae Nenda, Lempang Paji, Runus, Wukir, dan Mamba masih memiliki akses jalan yang sulit menuju puskesmas maupun rumah sakit.

Di sisi lain, sejumlah Pustu (Puskesmas Pembantu) belum memiliki alat gawat darurat dasar yang memadai, sehingga pelayanan darurat terhadap ibu hamil masih terbatas.
 


Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, lanjut Agas, akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di tingkat desa, serta mempercepat pembangunan infrastruktur kesehatan.


“Penurunan ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk bekerja lebih baik, memastikan setiap ibu dan bayi di Manggarai Timur mendapat pelayanan kesehatan yang aman dan layak,” kata Bupati Manggarai Timur itu.


Laporan: Acong Harson
 

Editor: Natanael Kwintalis Helan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X