Oleh: Katharina A.T.Kapir
Kota kupang merupakan ibu kota Nusa Tenggara Timur ( NTT ), kota yang kaya akan keberagaman budaya dan agama. Dalam perubahan sosial yang berlangsung, tradisi lokal menjadi dasar yang sangat penting dalam memperkuat sikap saling menghargai dan moderasi beragama. Tradisi – tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi kunci sosial yang mampu menjaga kerukunan dan kedamaian diantara masyarakat yang berbeda keyakinan.
Salah satu tradisi yang berperan dalam memperkuat toleransi beragama dikupang adalah tradisi “Helong”. Tradisi ini merupakan bentuk gotong royong dan kerja sama antar warga dalam berbagai kegiatan sehari – hari, seperti membangun rumah, menggarap ladang, dan menyelenggarakan upacara adat. Dalam tradisi helong, semua warga tanpa memandang agama dan suku bahu membahu membantu sesama. Hal ini menciptakan rasa persaudaraan dan kebersamaan yang kuat, sehingga perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan mendukung. Selain itu, helong juga mengajarkan nilai – nilai moderasi dan saling menghormati.
Salain itu, tradisi “ foti” yang memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan antar umat beragama, foti adalah upacara adat yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diantara masyarakat . Dalam upacara foti, tokoh adat dan tokoh agama berperan sebagai mediator yang mencari solusi terbaik bagi semua pihak. Proses mediasi dilakukan secara terbuka dan transparan, dengan mengedepankan prinsip keadilan dan keseteraan. Hal ini membantu meredakan keteganggan dan mencegah terjadinya konflik besar.
Baca Juga: Opini : Menemukan Tuhan di Era Digital: Tantangan dan Peluang Generasi Z
Perbaduan antara tradisi helong dan foti dapat menciptakan lingkungan sosial yang memiliki toleransi dan moderasi beragama. Helong mengajarkan pentingnya kebersamaan dan saling membantu, sementara foti mengajarkan pentingnya musyawarah dalam penyelesaian konflik secara damai. Dengan demikian masyarakat NTT memiliki pegangan untuk mencegah potensi konflik antar umat beragama.
Namun, pada era globalisasi saat ini tradisi helong dan foti mulai dilupakan. Arus informasi yang cepat dan gaya hidup yang mementingkan diri sendiri, dan juga ajaran agama dari luar menjadi ancaman serius bagi kelestarian tradisi helong dan tradisi foti. Oleh karena itu perlu adanya upaya yang berkelanjutan untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi helong dan foti agar tetap bertahan ditengah perkembangan zaman.
Artikel Terkait
Ojek Nyaris Dibacok di Kupang, Tiga Mahasiswa Mabuk Miras Mengamuk di Jalan Prof. Yohanes
Polri Dilirik Publik Lagi: Survei Litbang Kompas Ungkap Kinerja Memuaskan
Anggaran Reses Dipangkas MKD, Respons Puan Bikin Publik Bertanya-tanya
Kebijakan Baru Kemendikdasmen Diapresiasi, Tapi DPR Sebut Ada Celah Berbahaya
Opini : Menemukan Tuhan di Era Digital: Tantangan dan Peluang Generasi Z