Pesona Alam dan Keheningan Biara Trappist Lamanabi di Flores Timur

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Minggu, 25 Februari 2024 | 13:34 WIB
Gereja Trappist Lamanabi. (Foto/ Tarwan Stanis. Reportase NTT )
Gereja Trappist Lamanabi. (Foto/ Tarwan Stanis. Reportase NTT )

Baca Juga: Logostik Pemilu dari Tanawawo Dikawal Ketat Menuju ke KPUD Sikka

Dengan kesunyian yang ada dalam biara juga dengan ritme waktu yang diisi dengan doa, semakin membuat mereka yang ke sana mengenal dan menemukan diri sekaligus mengakrabkan diri dengan Sang Khalik, Pencipta dan Pemilik Kehidupan. Orang-orang yang ke sana percaya akan mendapatkan mukjizat-mukjizat kalau dijalani penuh keyakinan iman.

Pemandangan alam di taman Doa Trappist Lamanabi. (Foto/ Tarwan Stanis.Reportase NTT.)

"Ini sangat indah, alamnya sangat damai disini," kata Sita Tereng salah satu pengunjung asal Lembata. 

 

Kehidupan Sehari- hari para Rahib Biara

Gambaran umum hidup sehari-hari yang dilakukan oleh para Rahib adalah dengan menghayati oleh tiga latihan utama yang menopang seluruh kehidupan para rahib Trappist. Doa bersama, bacaan suci dan kerja tangan menjadi tiga latihan dasar yang sejak zaman dahulu membentuk hidup rahib.

Inilah salah satu Kapel kecil yang berada di dalam taman Doa Trappist Lamanabi. (Foto/ Tarwan Stanis. ReportaseNTT)

Bersama-sama dalam sebuah komunitas, para rahib mengambil bagian dalam ibadat liturgis gerejani, yang disebut Ibadat Harian. Sebagai bagian dari Gereja, mereka bertugas menampakkan wajah Gereja yang berdoa. Ibadat Harian dipraktekkan dalam wujud tujuh kali doa bersama di Gereja yang sudah dimulai sejak pukul 3.30 dini hari. Dengan Perayaan Ekaristi sebagai puncaknya, aktivitas harian para rahib ditutup dengan Ibadat Harian pada pukul 19.45 Wita.

Ibadat Harian hanya akan membawa kesuburan rohani jika dijiwai secara pribadi. Oleh karena itu setiap rahib harus meluangkan waktu untuk berdoa secara pribadi. Doa liturgis yang dijiwai oleh doa pribadi menjadi sarana untuk memelihara dialog terus-menerus dengan Allah.

Baca Juga: Menteri PANRB dan Mendikbudristek Bahas Transformasi Manajemen Tenaga Pendidik di Indonesia

Dibutuhkan kemampuan dan sikap mendengarkan untuk dapat berdialog dengan Allah. Latihan mendengarkan itu diwujudkan secara khusus dalam bacaan suci atau Lectio Divina. Lectio Divina merupakan kegiatan membaca yang bermuara kepada doa. Seorang rahib dituntun untuk membaca teks, meresapkannya dalam hati dengan cara mengulang-ulang lalu mengucapkan doa sebagai jawaban atas sentuhan rahmat yang diperoleh melalui teks tersebut. Tentu saja Kitab Suci menjadi bahan utama Lectio Divina.

Seorang karyawan Tengah mempersiapkan rangkaian ibdat sore. (Foto/ Tarwan Stanis. ReportaseNTT)

Rahib tentu saja tidak dapat hidup hanya dengan berdoa. Rahib harus bekerja juga. Pekerjaan para rahib terutama ditujukan untuk mencari nafkah yang diperlukan untuk hidup sehari-hari. Menurut St. Benediktus, rahib harus hidup dari hasil keringatnya sendiri, bukan dari bantuan atau derma orang lain. Kerja dilihat pula sebagai suatu pelayanan dan pengabdian bagi sesama saudaranya sebiara.

Beberapa pekerjaan untuk mencari nafkah diusahakan oleh para rahib. Di Lamanabi para Rahib mengusahakan pembuatan lilin, bercocok tanam buah-buahan dan sayuran, membuat roti, membuka toko benda-benda devosional, menyediakan penginapan bagi para tamu untuk retret dan lain-lain. Dengan aktivitas tersebut biara juga membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk turut bekerja bersama para rahib sebagai karyawan-karyawati.

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X