REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Biara Trappist yang dikenal dengan ordo OCSO (Ordo Cisterciensis Strictioris Obsevantiae) dikenal orang sejak adanya gerakan hidup kerahiban sekitar permulaan abad IV di padang gurun Mesir sekitar sungai Nil. Di Indonesia, orang lebih mengenal dengan pertapaan Rawaseneng, Jawa Tengah.
Dilansir melalui trappistlamanabi.id, gagasan mendirikan pertapaan Trappist di keuskupan Larantuka bermula dari keinginan bapak uskup Larantuka Alm. Mgr Darius Nggawa, SVD. Pada tahun 1983 beliau secara tertulis mengundang Abas Pertapaan Rawaseneng, Alm. Romo Frans Harjawiyata, untuk membuka fundasi Pertapaan Rawaseneng di dusun kecil Lamanabi. Lamanabi dalam bahasa Lamaholot secara harafiah berarti kelompok suku (lama) yang bermukim di bukit (nabi/nubi). Bukit bagi warga asli, merupakan tempat ritual kurban untuk berbakti kepada Wujud Tertinggi (Allah), maka Lamanabi mendapatkan arti simbolik sebagai Bukit Kurban.
Berhubung Rawaseneng sedang sibuk menyiapkan berdirinya biara suster Trappist di Gedono, Salatiga, Jawa Tengah, maka Rawaseneng baru dapat menanggapi secara aktif permintaan Bapak Uskup Larantuka lewat tujuh kunjungan survei Romo Abas Frans dan beberapa anggota pertapaan Rawaseneng lainnya ke Lamanabi. Kunjungan-kunjungan itu berlangsung antara tahun 1988 hingga 1995.
Baca Juga: Pelaku Persetubuhan Terhadap Anak di TTU Diringkus Polisi di Wilayah Perbatasan RI- RDTL
Karena dirasa belum siap mendirikan fundasi langsung di Lamanabi, Romo Abas Frans memutuskan untuk memulai dengan membuka Biara Aneks (semacam tempat tinggal sementara) lebih dahulu, dengan mengutus empat rahib ke Larantuka. Pada tanggal 12 Desember 1995 mereka berangkat dan menempati sebuah rumah kontrakan di kelurahan Sarotari, Larantuka. Keempat saudara tersebut ialah: Fr David Darius Bue, Fr Dominikus Dadu Hayon, Rm Mikael Santana dan Fr Petrus Migu Hayon. Pada 15 Oktober 1996 Kapitel Umum Ordo meresmikan Lamanabi sebagai fundasi Rawaseneng.
Upacara Peletakan Batu Pertama pembangunan pertapaan tahap pertama di Lamanabi yang dipimpin oleh Mgr Darius Nggawa dilangsungkan pada 9 Juni 1997. Baru pada 14 September 1998 keempat rahib biara Aneks tersebut dapat pindah dari Sarotari ke Lamanabi. Dan pada 29 September 1998 mereka sudah dapat mulai menjalankan hidup regular secara resmi. Oleh karena itu 29 September dianggap sebagai hari jadi Fundasi Lamanabi.
Dalam Kapitel Umum Ordo November 1999 yang dilangsungkan di Lourdes Perancis, Lamanabi diizinkan untuk mulai membuka novisiat. Dan dalam Kapitel Umum Oktober 2005 yang dilangsungkan di Assisi Italia, status Pertapaan Lamanabi ditingkatkan dari fundasi menjadi keprioran sederhana. Upacara pengangkatan keprioran sederhana dijatuhkan pada tanggal 8 Desember 2005. Romo Mikael Santana, OCSO yang sedari awal memimpin kelompok kecil para rahib tersebut terpilih menjadi Prior Pertapaan Lamanabi yang pertama.
Baca Juga: Akibat Kelelahan, Ketua PPK Talibura Dirawat di Puskesmas Watubaing
Keindahan Alam
Trappist Lamanabi berada di Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur. Alamnya, penduduk dan geografis wilayah ini, sungguh membawa ingatan orang pada pada kisah kapal yang meramaikan lintasan perdagangan nusantara tempo dulu. Tempat-tempat yang banyak teluknya ini, dulunya menjadi tempat berlabuhnya kapal yang menunggu berakhirnya badai laut musim barat.
Lamanabi memesona dengan kawasan perbukitan yang diselimuti hamparan padang rumput hijau. Berada jauh dari kebisingan kota, memberikan ketenangan batin untuk sebuah kesunyiaan yang dicari para pertapa.
Berada di Lamanabi, tinggal dalam komunitas Pertapaan Para Rahib Biara Trappist sungguh yang dirasakan adalah keheningan dan kedamaian. Ziarah hidup adalah perjalanan hidup menuju diri sendiri.