REPORTASENTT.COM, ADONARA- Peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, berlangsung meriah dan penuh nuansa budaya.
Minggu (23/11/2025) sore, rangkaian kegiatan dibuka dengan kirab jalan santai mengelilingi Desa Tobitika, melibatkan peserta dari 49 sekolah se-Kecamatan Witihama.
Prosesi kirab menjadi sorotan ketika Ketua PGRI Cabang Witihama, Albertus Inguliman, bersama Tokoh Adat Desa Tobitika, Yakobus Kelogo, menampilkan atraksi pembakaran obor sebagai simbol semangat perjuangan dan penerangan pendidikan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Babak Baru Pengendalian Limbah: KLH Terbitkan Dua Regulasi Kunci untuk Revolusi Air Bersih
Seperti disaksikan wartawan Reportasentt.com, rangkaian acara pembukaan diawali dengan ritual adat Lamaholot “Bau’lolon”, dipimpin oleh Yakobus Kelogo.
Ritual tersebut dilakukan untuk memohon restu leluhur dan campur tangan Tuhan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar hingga puncak perayaan pada 25 November 2025.
“Ritual ini penting sebagai penghormatan kepada leluhur dan bagian dari tradisi kami. Dengan doa dan restu mereka, kegiatan dapat berjalan aman dan lancar,” ujar Yakobus.
Angkat Budaya Sole’oha
Ketua PGRI Witihama, Albertus Inguliman, menjelaskan bahwa pemilihan Bukit Tabor Golgota, Desa Tobitika, sebagai lokasi rangkaian kegiatan memiliki alasan historis dan budaya.
Menurutnya, budaya Sole’oha’ yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai salah satu kekayaan budaya Lamaholot Adonara, pertama kali muncul di Desa Sandosi, wilayah Pulau Adonara.
“Karena itu, kami ingin mengangkat kembali nilai budaya ini sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda melalui momentum HUT PGRI,” ujar Albertus.
Baca Juga: Pastor Yohanes Hans Monteiro Resmi Ditunjuk Vatikan sebagai Uskup Larantuka
Pemerintah Desa Tobitika menyambut baik pelibatan tokoh adat dalam kegiatan PGRI tahun ini.
Pemerintah Desa Tobitika menyambut baik pelibatan tokoh adat dalam kegiatan PGRI tahun ini.
“Kami bangga, ini pertama kalinya sepanjang sejarah kegiatan PGRI di desa kami melibatkan tokoh adat secara langsung. Pemandangan ini sakral, unik, dan membawa berkah,” ujar perwakilan pemerintah desa.
Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya bernilai seremonial, tetapi juga memberikan edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menghormati dan melestarikan budaya Bau’lolon sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
.
“Untuk itu kami menyampaikan apresiasi kepada PGRI Cabang Witihama. Kegiatan menyongsong HUT PGRI dan Hari Nasional ini berjalan baik, aman, dan kondusif,” tambahnya.
Baca Juga: Mgr. Yohanes Hans Monterio: Saya Serahkan Pelayanan Ini kepada Tuhan dan Bunda Reinha
Kegiatan HUT PGRI Kecamatan Witihama telah berlangsung sejak 29 Oktober 2025, dan akan terus berlanjut hingga puncak acara pada 25 November 2025, dengan berbagai agenda pendidikan dan budaya.
Kegiatan HUT PGRI Kecamatan Witihama telah berlangsung sejak 29 Oktober 2025, dan akan terus berlanjut hingga puncak acara pada 25 November 2025, dengan berbagai agenda pendidikan dan budaya.
Artikel Terkait
Katolik, Portugis, dan Flores Timur: Larantuka Menjadi Warisan Religi Nusantara
Ombudsman NTT Telusuri Dugaan Pungli Ekspor Telur ke Timor Leste di PLBN Motaain
Kasat Lantas Pimpin Operasi Zebra 2025 di Flores Timur, Ini Pelanggaran yang Disasar
Babak Baru Pengendalian Limbah: KLH Terbitkan Dua Regulasi Kunci untuk Revolusi Air Bersih
Obor Menyala di Tobitika, HUT PGRI Witihama Diwarnai Ritual Adat Bau’lolon