REPORTASENTT.COM- Sepuluh tahun setelah menghadiri kampanye dengan pita putih di kepalanya sebagai simbol perlawanan terhadap kecurangan pemilu, Joko Widodo kini bersiap meninggalkan kursi kepresidenan.
Presiden dua periode itu telah membawa Indonesia ke era pembangunan infrastruktur besar-besaran dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Namun, warisannya juga diwarnai oleh kritik terhadap patronase politik, politik dinasti, serta dugaan menurunnya integritas lembaga negara.
Jokowi, yang awalnya dipandang sebagai sosok luar sistem politik tradisional, menjadi simbol harapan bagi demokrasi dan perubahan.
Selama kepemimpinannya, berbagai proyek strategis seperti pembangunan jalan tol, bandara, dan ibu kota baru telah terealisasi.
Di sisi lain, sejumlah pihak menyoroti adanya peningkatan pengaruh kelompok oligarki serta melemahnya independensi lembaga hukum dan peradilan.
Baca Juga: Sistem 'Tempel', 'Maps', hingga COD, Modus Baru Pengedar Obat- obatan Terlarang
Pada pemilihan presiden 2024, Jokowi mengejutkan publik dengan mengabaikan kandidat dari partainya sendiri dan justru mendukung Prabowo Subianto, mantan rival politiknya.
Prabowo, yang pernah diberhentikan dari militer di tengah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, telah membantah semua tuduhan tersebut.
Dalam pemilu kali ini, ia berhasil memenangkan kursi kepresidenan dengan menggandeng putra Jokowi sebagai calon wakil presiden.
"Widodo telah melakukan banyak kerusakan pada demokratisasi dalam beberapa tahun terakhir. Sulit untuk melihat bagaimana pemulihan dapat terjadi," ujar analis politik Kevin O'Rourke, dilansir melalui Reuters.