Diserang Tanpa Wajah: Saat Akun Anonim Jadi Senjata Baru dalam Perang Opini

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 08:20 WIB
Foto ilustrasi desain by Tim Reportase NTT
Foto ilustrasi desain by Tim Reportase NTT

 

REPORTASENTT.COM, SIKKA- Fenomena penggiringan opini di ruang digital semakin menjadi perhatian serius.

Media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok yang semula menjadi sarana hiburan dan ekspresi diri, kini kerap berubah menjadi arena perdebatan panas, bahkan serangan personal melalui akun anonim.

Tak sedikit dari pelaku penggiringan opini ini beraksi hanya karena iseng.

Baca Juga: Markas Judi Sabung Ayam di Pasar Wairkoja Digulung! Polres Sikka Tangkap Tiga Pelaku, Isu Beking Aparat Mencuat

Namun, terdapat pula kelompok terstruktur dan sistematis yang secara konsisten menyerang pribadi, institusi, maupun kelompok tertentu demi kepentingan tertentu.

Pola ini mengarah pada upaya sistematis yang berlindung di balik narasi kebebasan berekspresi.

Kasubsi Penmas Sihumas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, S.M, menyoroti fenomena ini dengan mengutip Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi dalam Buku Kumpulan Ulasan Politik, Ekonomi dan Gaya Hidup Era Digital.


Baca Juga: Matematika Cerdas, Generasi Hebat: IKTL Dorong Literasi Numerasi Lewat Kompetisi Siswa

Menurutnya, meskipun teknologi informasi berkembang sangat pesat, kesiapan sosial dalam mengelola komunikasi digital masih tertinggal.

“Ruang digital yang seharusnya memperluas partisipasi justru menjadi tempat polarisasi, ujaran kebencian, dan disinformasi,” ujar Leonardus.

Ia menambahkan bahwa demokrasi digital yang semestinya mendorong dialog terbuka justru berubah menjadi kebebasan tanpa kendali, menciptakan komunikasi yang liar dan penuh konflik.

Baca Juga: Teriakan Seorang Perempuan Tengah Malam Bongkar Aksi Brutal Yopi di Kupang

Tak hanya isu politik, penggiringan opini kini menyasar hampir semua aspek kehidupan, dari sosial, ekonomi, budaya, hingga agama.

Dampaknya, masyarakat menjadi mudah terprovokasi dan mengambil sikap tanpa mempertimbangkan aturan maupun mekanisme yang berlaku.

Literasi digital pun menjadi kunci utama untuk melawan arus disinformasi.

Baca Juga: Relokasi ala Pemda Kupang: Warga Pulau Kera Melawan Penggusuran Berkedok Lingkungan

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X