Pegawai Dinas Pendidikan Sumba Barat Daya Ditikam, Aloysius Malah Diframing Jahat di Medsos, Keluarga Bongkar Fakta Mengejutkan!

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Kamis, 19 Juni 2025 | 22:19 WIB
Keluarga korban.  (Foto Tim)
Keluarga korban. (Foto Tim)

 

TAMBOLAKA, REPORTASENTT.COM- Di tengah perjuangan hidup dan mati usai ditikam secara brutal, Aloysius Lede Bora, pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumba Barat Daya (SBD), justru jadi korban framming kejam di media sosial.

Bukannya mendapat simpati, korban malah dihujat habis-habisan dengan tudingan sepihak yang dinilai keluarga sebagai pembunuhan karakter!

Juru bicara keluarga, Bene Dalupe, angkat bicara tegas pada Selasa (17/6) di RSUD Reda Mbolo.

Baca Juga: Jauh dari Sorotan, Desa Mbotulaka Baru Kali Ini Dikunjungi Kapolres Ende, Kades: Momen Bersejarah bagi Kami

Ia didampingi Hugo Dalupe, dan menyatakan bahwa keluarga sangat terpukul dengan gelombang komentar jahat di medsos yang malah menyudutkan korban.

“Framming-nya kejam. Saudara kami ditusuk, tapi malah dia yang dipersalahkan. Komentarnya seolah-olah pelaku wajar menikam karena korban mempersulit dana BOS. Itu bohong!” tegas Bene.

Tudingan Aloysius mempersulit pengurusan dana BOS di SD Iha Loko, tempat pelaku bekerja, ditepis keras oleh keluarga dan mantan Kabid SD, Apin Nillan.

Baca Juga: Baru Putus! Ini Hukuman Mengejutkan untuk Sopir Truk Maut Lewolaga- Flores Timur

Mereka menyatakan, justru sekolah itu memang bermasalah secara administratif dan gedungnya tidak layak.

“Data yang dimasukkan 300 siswa, tapi yang valid hanya 110. Itu bukan salah Pak Alo, itu fakta dari verifikasi resmi," beber Bene.

Lebih mengejutkan lagi, menurut Apin, pelaku penikaman bahkan tidak terdaftar dalam Dapodik sebagai operator sekolah, sehingga mustahil Aloysius bisa mempersulit hak-haknya.

Baca Juga: Bupati Flores Timur Dukung Penguatan Kapasitas Guru Seni Lewat Workshop di Larantuka

“Tidak ada unsur memperumit. Bahkan Pak Alo sudah bantu input beberapa berkas. Sayangnya, setelah itu malah terjadi penikaman kejam itu,” lanjut Bene.

Keluarga pun menyayangkan publik dan warganet yang terlalu cepat menyimpulkan dan justru memberi pembenaran atas tindakan kriminal tersebut.

“Ini bukan pembelaan sepihak. Tapi ini soal moral publik. Menusuk orang bukan tindakan yang bisa dimaklumi. Jangan sampai karena narasi sepihak, orang baik malah jadi korban dua kali,” pungkasnya.


Baca Juga: Bukan Cuma Bom Ikan, Warga NTT Juga Dijual ke Luar Negeri, Ini Modusnya!

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X